Waspadai Penyakit Blas, Pemkab Lamongan Lakukan Gerdal dengan Teknologi Drone

  • Bagikan
INOVASI BARU: Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi (pegang remote kontrol) mengoperasikan drone untuk memperkuat hasil pertanian padi di wilayahnya.

INDOSatu.co – LAMONGAN – Dinobatkan sebagai lumbung pangan produksi padi nomor 1 di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Lamongan terus memperkuat produksi padi dengan melibatkan kemajuan teknologi di bidang pertanian, salah satunya dengan gerakan pengendalian (Gerdal) hama dengan menggunakan drone.

Pengendalian hama dengan drone ini dilakukan di 10 hektar lahan areal persawahan Desa Blawirejo Kecamatan Kedungpring, Kamis (2/6). Berkesempatan hadir dan mengoperasikan drone secara langsung, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi.

Pak Yes, sapaan akrab Bupati Yuhronur Efendi menuturkan, penyakit blas pada padi menjadi perhatian Pemkab Lamongan karena dipastikan akan mengganggu produksi padi di Kota Soto tersebut. Karena itu, kata dia, perlu dilakukan tindakan pemberantasan penyakit tersebut, salah satunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi, yakni drone.

Baca juga :   Masuki Musim Tanam Kedua, Dirjen PSP Kementan Minta Pompanisasi Dimaksimalkan

“Ini akan menjadi prioritas. Kami akan menambah jumlah lahan yang akan dilakukan gerdal. Sebab, penyakit blas bisa dikatakan penyakit yang berbahaya jika tidak segera dilakukan penanganan,” terang Pak Yes.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lamongan, Sukriyah, pada kesempatan yang sama menuturkan, Gerdal penyakit blas dengan menggunakan drone ini sudah dilakukan sejak Rabu (1/6) kemarin, dan akan terus dilakukan pada keseluruhan lahan sawah di Kecamatan Kedungpring.

Baca juga :   Pertahankan Predikat sebagai Kabupaten Sehat, Lamongan Jadi Rujukan Daerah Lain

Sukriyah menambahkan, Lamongan tergolong kawasan yang kronis endemis, terlebih penyakit blas merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur pylicularia grisea. Jamur ini dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari fase pembibitan sampai pada fase generatif. Tanaman yang terserang penyakit blas memiliki ciri bercak coklat berbentuk belah ketupat pada daun tanaman padi.

Dikatakannya, penggunaan drone dalam pengendalian penyakit blas ini akan lebih efektif, waktu pengerjaan kegiatan bertani jauh lebih cepat. Dengan drone untuk menyebarkan pestisida untuk penyakit blas hanya membutuhkan waktu 15 menit pada lahan 1 hektare. Begitu juga dengan banyaknya pestisida atau biayanya, yang biasanya secara manual menghabiskan 40 liter untuk 1 hektare, dengan teknologi ini hanya menghabiskan 10 liter pestisida.

Baca juga :   Bupati Yuhronur Targetkan Lamongan Miliki 80 Desa Mandiri pada 2022

“Kami melibatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi yang ada di bidang pertanian. Dengan alasan akan lebih efektif. Dalam hal, menggunakan drone,” tutur Sukriyah.

“Memasuki era baru yang penuh dengan kemajuan teknologi. Kita sebagai pemerhati dan pelaku bidang pertanian harus turut serta menerapkan. Hal itu sebagai bentuk mengikuti revolusi perkembangan pertanian. Dari situ kita dapat membedakan bertani dalam setiap kurun waktu,”  terangnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *