INDOSatu.co – JAKARTA – Dokter Terawan Agus Putranto, inisiator riset vaksin Nusantara sekaligus mantan Menteri Kesehatan belum lama ini menyatakan bahwa vaksin dengan metode sel dendritik buatannya akan mampu mengakhiri pandemi Covid-19 di Indonesia.
Dia mengaku optimistis karena pengembangan vaksin dengan teknologi sel dendritik tengah menjadi perbincangan dunia. Terawan sebelumnya juga mengatakan sel dendritik dipilihnya sebagai metode pembuatan vaksin Covid-19 usai berkaca pada kejadian SARS di China 2002 silam.
“Dendritik sel vaksin imunoterapi atau vaksin Nusantara (VakNUs), the beginning of the end for cancer and Covid-19. Artinya apa? Dunia sepakat punya hipotesa bahwa yang akan menyelesaikan hal ini termasuk Covid-19 adalah dendritik sel imunoterapi atau vaksin Nusantara,” kata Terawan dalam kanal YouTube RSPAD Gatot Soebroto.
Terawan juga menjelaskan, dari hasil uji klinik fase I oleh tim peneliti Universitas Diponegoro dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa imunitas vaksin Nusantara masih awet pada bulan ketiga pasca penyuntikan.
Selanjutnya, kata dia, berdasarkan hasil penelitian uji klinis fase II di RSPAD Gatot Soebroto juga tidak menunjukkan efek samping yang serius pada seluruh subjek hingga pekan keempat. Pun Terawan juga mengakui bahwa vaksin Nusantara memberikan efek baik pada dirinya.
“Kita bisa merasakan efek imun yang kita peroleh dari vaksin Nusantara, produk kita sendiri, dan rasanya enak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Terawan juga menyebut vaksin berbasis sel dendritik besutannya mudah dibuat, dan didesain mampu menangkal segala macam mutasi virus SARS-CoV-2 yang terus mengalami perkembangan. Dia mengaku hanya perlu waktu 8 hari untuk mencampurkan komponen antigen beragam varian baru itu untuk kemudian dipaparkan kembali dengan sampel darah manusia.
Terawan mengungkapkan, vaksin Nusantara ini nantinya khusus untuk individual. Sebab dalam teknisnya, setiap orang akan diambil sampel darahnya untuk kemudian dipaparkan dengan kit vaksin sel dendritik. Cara kerjanya, sel yang telah mengenal antigen akan diinkubasi hingga 8 hari. Dalam hal ini antigen tersebut dapat diubah berdasarkan antigen varian-varian corona terkini.
“Kita bisa ajarkan ke semua, sangat mudah. Teknik pembuatannya juga simple,’’ kata Terawan. (*)