INDOSatu.co – BANDUNG – Sejumlah tokoh Sunda akhirnya turun gunung, menyikapi alih fungsi bangunan dari Masjid Nurul Ikhlas menjadi swalayan berjejaring, IndoMaret di Jalan Cihampelas 149 Bandung pada Selasa (21/3). Aksi unjuk rasa tersebut yang digelar di halaman IndoMaret tersebut mendesak Walikota Bandung, Yana Mulyana agar berani menindak IndoMaret dengan menyegel, bahkan membongkar bangunan swalayan tersebut.
Beberapa tokoh yang hadir dalam aksi tersebut, antara lain Advokat senior H. Memet Hakim SH, Tokoh Sunda Andri Kantaprawira S.Ip MM, mantan Ketua APIB DR. Ir. Memet Hakim, Mubaligh DR KH Anton Minardi, SH M.Ag, Youtuber Saiful Zaman, Sekjen FKP2B Ir. H Syafril Sofyan dan tokoh lainnya.
Dalam orasinya, para tokoh itu intinya meminta agar Pemkot Bandung bertindak tegas atas pelanggaran hukum yang terjadi di depan mata. Selain merusak, membongkar masjid yang termasuk Cagar Budaya itu dinilai mencoreng wajah kota Bandung dengan perilaku sewenang-wenang dan menginjak-injak hukum.
‘’Arogansi PT KAI dan sikap menentang PT Indomarco pengelola IndoMaret sangat melukai warga Bandung. Pemerintah Kota Bandung terkesan dipermainkan dan dilecehkan,’’ kata Rizal F. kepada IndoSatu.co, Rabu (21/3).
Aksi yang diakhiri dengan salat duhur berjamaah di tempat, dimana dahulunya adalah Masjid Nurul Ikhlas yang telah dihancurkan oleh PT KAI dan PT indomarco itu cukup tertib, namun bersemangat. Tercatat aksi protes ini adalah rangkaian perjuangan untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kepatuhan hukum. Pernah ada acara aksi para Seniman Bandung dengan melukis kebiadaban PT KAI dan PT Indomarco juga di Jalan Cihampelas 149.
”Kang Yana sebagai Walikota Bandung harus berani bertindak membela martabat Pemkot, menghargai aspirasi masyarakat Sunda, serta melindungi Budaya dan Agama. Masjid Cagar Budaya yang dihancurkan bukan persoalan sederhana. Perda Kota Bandung yang diabaikan dan Undang Undang Cagar Budaya yang dilanggar,” kata Rizal.
Terkait kasus perubahan alih fungsi dari masjid menjadi Swalayan IndoMaret tersebut, mereka mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut; Pertama, Pemkot segera mengusir dan menggusur pihak yang menguasai lahan dengan cara premanisme dan unjuk kekuatan. Semestinya yang berhak melakukan pengosongan adalah lembaga Peradilan. Sengketa kepemilikan dilabrak sepihak dengan aksi paksa PT KAI. Kewenangan eksekusi Pengadilan dilewati.
Kedua, penghancuran Masjid Jami Nurul Ikhlas yang terdaftar di Kemenag dan dilindungi Perda 7 Tahun 2018 serta UU Nomor 11 Tahun 2010 adalah perbuatan pidana. Penghancur, penyuruh penghancuran dan pihak yang membantu penghancuran patut terkena sanksi pidana baik penjara dan atau denda.
Ketiga, membangun gedung yang kemudian menjadi Indomaret dilakukan tanpa izin IMB/PBG. Upaya yang dilakukan Pemkot untuk menghentikan pembangunan tanpa izin tersebut telah gagal. Pemkot seolah tak berdaya menghadapi “tangan raksasa”. Membangun tanpa izin PBG jelas merupakan pelanggaran hukum.
Keempat, operasi usaha IndoMaret juga tidak sah atau ilegal. Berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 2021 Pasal 6 ayat (4), maka PBG dan Sertifikat Laik Fungsi adalah syarat bagi terbitnya Izin Berusaha. IndoMaret tidak memenuhi syarat untuk berusaha, karenanya usaha perusahaan Salim Group itu ilegal.
Pelanggaran hukum PT KAI dan PT Indomarco, selaku pemilik IndoMaret di Jalan Cihampelas 149 tersebut semestinya menjadi dasar bagi Pemkot Bandung untuk lebih tegas dalam bertindak.
‘’Kang Yana, tolong segera segel dan bongkar bangunan IndoMaret di Jalan Cihampelas 149. Selanjutnya lakukan langkah hukum untuk memberi sanksi pidana atas penghancuran bangunan Cagar Budaya. Warga Bandung tidak pantas untuk dibodohi dan dinistakan oleh siapapun,’’ pungkas Rizal. (zal/red)