INDOSatu.co – GORONTALO – Upaya meningkatkan kemampuan guru di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, akan terus dimasifkan. Caranya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo akan menggandeng dan bekerja sama dengan Prodi Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Guna merealisasikan program tersebut, digelar kegiatan workshop yang diikuti 280 guru se-Kabupaten Gorontalo. Workshop tersebut digelar selama dua hari, pada Sabtu-Ahad (6-7/5).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo, Titianto Pauweni mengaku mengapresiasi dan tertarik dengan workshop yang melibatkan ratusan guru di Kabupaten Gorontalo tersebut.
‘’Kepada panitia, saya juga sangat mengapresiasi. Masih mahasiswa tapi sudah ikut andil dalam kegiatan ini,’’ kata Titianto, Sabtu (6/5).
Kepada awak media, Titianto mengaku merasa terbantu dengan adanya workshop yang digelar mahasiswa dalam upaya meningkatkan mutu dan kompetensi guru tersebut.
“Workshop yang merupakan kolaborasi antara mahasiswa Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan dengan Dinas Pendidikan ini berjalan baik. Saya sangat bersyukur, karena materi yang diberikan pada workshop ini sangat dibutuhkan oleh teman-teman guru dalam rangka implementasi kurikulum merdeka,’’ kata Titianto.
Tidak hanya itu. Titianto juga mengaku bahwa kegiatan seperti ini akan sulit dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan terbatasnya tenaga. Padahal, di Gorontalo memiliki narasumber kelas nasional dan satu-satunya di Provinsi Gorontalo, tetapi yang bersangkutan banyak bertugas di beberapa provinsi di Indonesia. Sayangnya, Titianto enggan menyebut tokoh pendidikan asli Gorontalo yang dimaksud.
Dengan tugas berkeliling se-Indonesia, sehingga tidak banyak waktu untuk mengisi kegiatan-kegiatan kependidikan di Gorontalo. Meski demikian, Titianto berharap kedepan, yang bersangkutan bisa menjadi narasumber dan mengisi acara workshop kependidikan di Gorontalo. ‘’Doakan, kami bisa menghadirkan beliau di Gorontalo,’’ tambah Titianto.
Dalam kesempatan tersebut, Titianto juga berharap bahwa para guru yang mengikuti workshop selama 2 hari itu harus bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, sehingga bisa lebih banyak mendapat referensi yang cukup. Apalagi, kegiatan ini waktunya sangat singkat.
‘’Karena waktunya sangat terbatas, apa yang mereka dapatkan bisa diimplementasikan langsung kepada anak-anak di dalam kelas,’’ pungkas Titianto. (*)