Rupiah Anjlok, Komisi VII DPR: Pemerintah Jangan Terburu-buru Naikan Harga BBM

  • Bagikan
APBN UNTUK RAKYAT: Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto meminta pemerintah membatalkan proyek PIK 2 yang dilabeli PSN. Karena PIK 2 merupakan proyek swasta, dan tak patut dibantu duit APBN.

INDOSatu.co – JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto meminta Pemerintah jangan terburu-buru menaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau Pertalite menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebaliknya, Mulyanto justru meminta Pemerintah sebaiknya fokus mencari solusi pelemahan nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat kecil. Ia menilai, masih banyak upaya yang dapat dilakukan Pemerintah untuk menjaga stabilitas APBN tanpa menaikan harga jual BBM bersubsidi yang ujung-ujungnya akan menyusahkan masyarakat.

Baca juga :   109 Ton Emas Antam Palsu Dibongkar, DPR RI: BUMN Jangan Jadi Penampung Emas Ilegal

“Pemerintah jangan cari kesempatan dari pelemahan nilai tukar rupiah ini untuk menaikan harga BBM bersubsidi. Karena indikator objektif lain dalam pembentukan harga jual BBM bersubsidi masih positif,” kata anggota DPR dari PKS tersebut.

Saat ini, kata Mulyanto, tren harga minyak mentah dunia cukup stabil di kisaran harga USD 81 per barel. Padahal, kata dia, diawal Oktober 2023 mencapsi USD 90 per barel.

Baca juga :   Ancam Kedaulatan Negara dan Rusak Lingkungan, F-PKS Minta Presiden Batalkan Ekspor Pasir

Sementara itu, asumsi makro ICP tahun 2024 sebesar USD 82 per barel. Dengan demikian, harga minyak dunia yang ada, masih di bawah asumsi makro ICP.

“Kami maklumi bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini terjadi dapat mempengaruhi harga jual BBM bersubsidi,” tegas Mulyanto.

Tapi, imbuh Mulyanto, Pemerintah jangan menggampang-gampangkan masalah.

Baca juga :   DPR Desak Presiden Jokowi Bubarkan Satgas yang Dipimpin Menteri Bahlil

“Jangan mentang-mentang nilai tukar rupiah anjlok, langsung terpikir menaikan harga BBM bersubsidi. Karena kebijakan ini akan menyebabkan inflasi yang membuat kondisi ekonomi kian terpuruk,” terang Mulyanto. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *