INDOSatu.co – ANKARA – Guna meredahkan krisis diplomatik, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akhirnya membatalkan mengusir 10 duta besar asing di negaranya.
“Saya yakin para duta besar ini telah memenuhi komitmen mereka terhadap Pasal 41 Konvensi Wina, mereka akan lebih berhati-hati sekarang,” ujar Erdogan Senin (25/10) malam dalam sebuah pernyataan di siaran TV.
Sebelumnya, Presiden Erdogan sempat geram terhadap 10 duta besar asing itu. Penyebabnya, mereka meminta pemerintah Turki membebaskan Osman Kavala.
Kavala sendiri saat ini telah dipenjara karena terlibat berbagai gerakan antipemerintah. Dia juga diduga terlibat dalam aksi kudeta 2016 yang digagalkan Erdogan.
Para duta besar, termasuk dari Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman pekan lalu menyerukan pembebasan Osman Kavala, yang telah berada di penjara Turki selama empat tahun menunggu persidangan atas tuduhan tidak berdasar.
Duta besar negara lainnya seperti Belanda, Kanada, Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia dan Selandia Baru juga bergabung dalam tuntutan tersebut.
Akibat aksi ini, Kementerian Luar Negeri Turki memanggil sepuluh duta besar negara tadi pada Selasa (18/10).
Pada Sabtu (23/10), Erdogan mengumumkan bahwa dirinya telah mengusir sepuluh duta besar negara yang ikut serta mendukung Kavala.
“Saya telah memerintahkan menteri luar negeri kami untuk mengumumkan sepuluh duta besar negara asing tersebut akan diusir dari Turki,” ujar Erdogan, Sabtu (23/10).
Walaupun demikian, Erdogan tak menyebut waktu tepat kesepuluh duta besar tersebut resmi diusir. Namun, Erdogan menegaskan, “Mereka harus pergi dari sini pada hari mereka tidak lagi bisa di Turki.”
Osman Kavala yang mereka bela sendiri merupakan seorang filantropis sekaligus aktivis kelahiran Paris. Turki menahan pria 64 tahun itu sejak 2017 tanpa vonis hukuman. (za/red)