INDOSatu.co – JAKARTA – Capres Prabowo Subianto benar-benar mati kutu dalam Debat Ketiga Capres yang digelar KPU di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Ahad, (7 /1) malam. Dalam debat tersebut, posisi Prabowo sebagai Menhan juga dikuliti, baik dari Capres Anies Baswedan maupun Capres Ganjar Pranowo.
Stidaknya ada tiga pertanyaan dari Anies dan Ganjar yang disorot Anies maupun Ganjar. Pertama soal kepemilikan lahan 340 ribu hektare milik Prabowo, pembelian alutsista bekas, serta kinerja Prabowo sebagai Menhan.
Suhu panas debat capres benar-benar tersaji. Terutama Capres Anies Baswedan dan Capres Prabowo Subianto. Anies dan Prabowo sejak awal sudah menunjukkan rivalitas yang nyata. Belakangan, Capres Ganjar Pranowo juga buka-bukaan soal data Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang membuat merah kuping Prabowo.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sendiri menggelar debat ketiga Pilpres 2024 pada Ahad, (7 /1) malam ini di Istora Senayan, Jakarta Pusat. Tema debat ketiga ini antara lain, Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, Globalisasi, Geopolitik dan Politik Luar Negeri.
Dalam menjelaskan visi misi calon presiden nomor 1, Anies Baswedan menyinggung soal kepemilikan tanah milik Prabowo Subianto seluas 340 ribu hektare.
“Tentara kita lebih dari separo tidak memiliki rumah dinas, sementara menterinya menurut pak Jokowi punya lebih dari 340 ribu hektare tanah di republik ini,” kata Anies dalam memaparkan visi misinya.
Soal kepemilikan lahan Prabowo yang diungkap Anies mengatakan bahwa Prabowo memiliki luas tanah seluas 340 hektar, kemudian diralat menjadi 340 ribu hektar. Saat debat 2019 lalu, Jokowi juga pernah membeberkan fakta serupa bahwa Prabowo memiliki tanah seluas 340 ribu hektare.
Saat itu, Prabowo mengaku data yang dilontarkan Jokowi benar, namun hanya memiliki Hak Guna Usaha (HGU). Tetapi, pada debat ketiga kali ini, Prabowo langsung membantah data yang dipaparkan Anies Baswedan yang bersumber dari Jokowi tersebut. Selain itu, pembelian alutsista dan kinerja Prabowo sebagai Menhan juga menjadi sasaran empuk Anies dan Ganjar.
Mendapati pertanyaan soal kepemlihan lahan, Prabowo hanya bisa menangkis pertanyaan-demi pernyataan, tanpa menunjukkan data kepemilikan lahan dimiliki. Sedangkan pertimbangan pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas, Prabowo menjelaskan bahwa alutsista dinilai dari masa atau usia pakai (flying dan sailing hours).
Dalam penjelasannya, usia dari alutsista sekitar 25-30 tahun, baik pesawat terbang; kapal perang, dan sebagainya.
“Jadi, bukan soal bekas dan tidak bekas, tapi usia pakai,” ucap Prabowo. Ia kemudian mencontohkan pesawat Mirage 2000-5 dari Qatar yang hendak dibeli Kementerian Pertahanan. Prabowo mengingatkan usia pakai pesawat tersebut baru 15 tahun.
“Pesawat Mirage 2000-5 yang ada di Qatar, yang rencananya kita ingin akuisisi, itu usia pakainya masih 15 tahun,” ungkap Prabowo.
Ia melanjutkan, pesawat tersebut memiliki teknologi yang mengarah pada pesawat yang lebih canggih. Pesawat tersebut awalnya ingin dibeli karena ada kebutuhan.
“Teknologi ini mengarah kepada yang lebih canggih. Kita menunjukkan yang canggih, yang terbaru, tapi kalau kita beli baru, datangnya, pak, baru 3 tahun dan operasionalnya baru 7 tahun. Sementara 3 sampai 7 tahun ini kita butuh deterrence (pencegahan), kita butuh kemampuan,” jelas dia.
Sementara itu, capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo mengaku tidak rela apabila prajurit TNI yang bertempur lalu gugur atau meninggal sia-sia. Hal tersebut disampaikan Ganjar merespons pernyataan dari capres nomor urut 1 Anies Baswedan terkait pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas dan kesejahteraan prajurit TNI.
Menurut Ganjar, pembangunan pertahanan dan keamanan negara harus direncanakan dengan baik dan konsisten. Ia merujuk proses kebijakan pengadaan alutsista TNI untuk seluruh matra harus bottom up atau dari bawah ke atas.
“Hari ini saya meragukan (perencanaan Menhan) karena saya bicara dengan pilot (Angkatan Udara), saya bicara dengan Angkatan Laut soal permasalahan ini. Perencanaan yang top down membuat seluruh matra hanya menerima saja,” kata Ganjar.
Ia mengaku mengetahui kondisi nyata para prajurit TNI di Tanah Air, setelah berkeliling Indonesia menemui mereka. “Saya bersama mereka, saya mendengarkan, saya berkeliling Indonesia, saya mampir bertemu di rumah-rumah mereka, di asrama-asrama mereka. Saya tidak mau jika mereka mati bertempur sia-sia. Saya tidak rela. Itulah yang saya bela. Perencanaan bottom up adalah yang mereka inginkan,” ujar Ganjar.
Sebelumnya, Anies mengatakan pemberian nilai lima dari Ganjar terhadap kinerja Kementerian Pertahanan terlalu tinggi karena kementerian tersebut belum mampu menghadirkan kesejahteraan prajurit yang baik, bahkan membeli alutsista bekas dari negara lain.
“Lalu alutsista bekas, risikonya keselamatan TNI kita. Mereka kerja keras jaga tanah Republik ini. Tapi mereka tidak didukung policy (kebijakan),” ujar Anies.

Sementara capres nomor urut 2 yang juga Menhan Prabowo Subianto mengatakan dalam dunia pertahanan di negara manapun hampir 50 persen alutsista yang dimiliki adalah bekas, tapi usianya masih muda dan bagus. “Dalam pertahanan hampir 50 persen alat-alat dimanapun bekas tapi usianya masih muda,” kata Prabowo dalam sesi debat capres.
Hal itu merespons pernyataan capres nomor urut 1 Anies Baswedan yang menyinggung soal penggunaan utang luar negeri Indonesia untuk membeli alutsista bekas.
Menurut Prabowo, pernyataan Anies itu tidak pantas diucapkan karena pembelian alutsista bekas yang ada di Indonesia masih berusia muda.
Prabowo bersedia mengajak Anies untuk berdiskusi perihal sistem pertahanan di Indonesia dan dia akan membawa data-data yang lengkap.
“Pak Anies rupanya tidak mengerti masalah pertahanan, saya bersedia mengundang, Pak Anies di tempat yang Pak Anies suka, saya akan bawa data, saya akan bawa data yang sebenar-benarnya,” ujar dia.
Terkait dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan), capres nomor 3, Ganjar Pranowo dan capres nomor 1 Anies Rasyid Baswedan kompak memberikan skor rendah untuk kinerja Kemenhan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Saat menjawab pertanyaan Anies mengenai nilai kinerja Kemenhan, Ganjar pun menyebut hanya memberikan skor lima.
Sementara itu, saat memberikan tanggapannya atas pernyataan Ganjar, Anies menilai skor yang diberikan kompetitotnya untuk kinerja Kemenhan masih terlalu tinggi. Menurut Anies, skor kinerja Kemenhan di matanya justru hanya 11 dari angka 100.
“Menurut saya skornya justru di bawah 5, mas Ganjar. Kalau 5 itu ketinggian Mas Ganjar. 11 mas, dari angka 100,” kata Anies. (*)