Pertamina Pasarkan LPG Nonsubsidi Bright 3 Kg, Aleg PKS: Pemerintah Tega pada Rakyat!

  • Bagikan

INDOSatu.co – JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, tak bosan-bosannya mengkritisi pemerintah. Setelah meminta Presiden Jokowi perlu menegur Menteri BUMN terkait kelangkaan gas LPG 3 kilo gram, kini Mulyanto kembali menyebut Pemerintah super tega kepada masyarakat kerena meluncurkan LPG 3 kilo gram nonsubsidi.

”Pemerintah bukan mengatasi kelangkaan gas LPG bersubsidi, malah meluncurkan produk LPG 3 kilo gram nonsubsidi bermerek Bright dengan harga yang lebih mahal,” kata Mulyanto dalam keterangannya kepada awak media.

Kebijakan itu, kata Mulyanto, akan membuat pengadaan dan pendistribusian LPG 3 kilo gram bersubsidi semakin terbatas dan sulit. Ujung-ujungnya masyarakat dipaksa membeli LPG 3 kilo gram nonsubsidi.

Baca juga :   Pekerjaan Jarigas Desa Selesai 100 Persen, Rekanan Proyek PUPR di 25 Provinsi Belum Dibayar

Mulyanto juga memperkirakan hadirnya LPG 3 kilo gram nonsubsidi akan meningkatkan tindak penyalahgunaan LPG 3 kilo gram bersubsidi oleh pihak tertentu. Mengingat selisih harga jualnya sangat besar.

“Pertamina saat ini menjual LPG 3 kilo gram merek Bright seharga Rp 56.000 terbatas di Jakarta dan Surabaya, jauh lebih mahal dari gas melon 3 kilo gram bersubsidi yang sekitar Rp 20.000. Produksi gas pink 3 kg ini rawan penyimpangan,” kata Mulyanto.

Mulyanto menambahkan, selama ini salah satu modus penyimpangan gas melon bersubsidi yang ditemukan aparat adalah pengoplosan, yang memindahkan isi gas elpiji dari tabung melon 3 kilo gram bersubsidi ke dalam tabung 12 kilogram non subsidi.

Baca juga :   Kualitas KA PT. INKA Buruk, Wakil Ketua FPKS: Tiga Kementerian Harus Cari Solusi

“Modus ini tidak lain mengubah dari barang bersubsidi dijual menjadi barang non-subsidi yang berharga mahal,” ungkapnya.

Menurut Mulyanto, produk gas elpiji pink berukuran 3 kilo gram yang berukuran sama persis dengan gas melon 3 kilo gram bersubsidi, akan makin memudahkan pengoplosan. Apalagi marjinnya besar, mencapai Rp 36.000 per tabung. Pengoplosan bisa semakin marak.

“Dari ukuran yang berbeda saja terjadi pengoplosan gas elpiji, apalagi kalau barang dan ukurannya serupa. Kasarnya, tinggal cat ulang saja dari tabung berwarna melon menjadi pink, maka berubah dari barang bersubsidi menjadi barang non-subsidi. Ini kan semakin rawan. Inikan sebentuk dualitas produk. Di mana komoditas yang sama, dijual dengan harga yang berbeda. Yang satu bersubsidi dan yang lain non-subsidi,” jelas Mulyanto.

Baca juga :   Terbongkar, Firli-Juliari Pernah Bagi Bansos Bareng

Sebagai informasi, di tengah harga gas LPG dunia yang terus merosot hampir setengahnya sejak puncaknya di awal tahun 2022, harga LPG di Indonesia tetap bertahan.

Yang terjadi justru sebaliknya, muncul kelangkaan gas LPG 3 kilo gram dan harganya juga melejit. Demikian dilaporkan dari berbagai daerah seperti Balikpapan, Makassar, Bali, Banyuwangi, Sumatera Barat, dan lain-lain.

Ada penumbuhan demand pasca pandemi Covid-19. Namun diperkirakan oleh Pertamina, over kuota tersebut tidak lebih dari 2,7 persen atau kekurangan sebesar 0.3 juta ton LPG 3 kilo gram. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *