INDOSatu.co – JAKARTA – Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan akhirnya angkat suara menyikapi permintaan maaf dari Ketua KPU Hasyim Asy’ari terkait kesalahan sistem IT Pemilu KPU.
Rakyat, kata Anthony, tidak bisa percaya dan menerima kinerja KPU yang jauh profesional itu. Bahkan, Anthony khawatir kesalahan-kesalahan serupa akan terus terjadi, dan ujung-ujungnya digunakan untuk memanipulasi suara rakyat.
Sistem IT Pemilu, kata Anthony, harus sempurna untuk bisa dinyatakan layak pakai, berhasil melewati berbagai test kemungkinan kesalahan input. Apalagi, KPU juga dibiayai APBN yang sangat besar. Karena itu, sangat disayangkan, jika urusan IT saja tidak dipersiapkan secara baik. ”Masak anggaran besar, kerja IT-nya asal-asalan, keliru menginput data,” kata Anthony dalam rilisnya kepada INDOSatu.co, Jumat (16/2).
Karena itu, Sistem IT KPU yang bisa menerima kesalahan input yang sangat sederhana berarti sistem ini sudah cacat, dan harus dinyatakan tidak layak pakai, sehingga harus ditolak, dan sebagai konsekuenai, pemilu ini juga harus ditolak.
Karena sistem IT KPU ini patut diduga keras dibuat secara sengaja untuk bisa menampung (dan untuk bisa melakukan) kesalahan dan kecurangan, sehingga sistem ini tidak ada legitimasi lagi, dan tidak bisa dipercaya lagi, untuk digunakan rekapitulasi suara Pemilu.
Sistem yang benar seharusnya mempunyai mekanisme check secara otomatis (built-in) untuk menangkal berbagai kemungkinan kesalahan.
Misalnya, kata Anthony, kalau jumlah input data dari TPS lebih dari jumlah data DPT, maka secara otomatis sistem harus menolak data tersebut. Kalau tidak ada check secara otomatis, maka sama artinya bahwa sistem didesain untuk curang dan tidak layak pakai. Tolak Sistem IT KPU, tolak Pemilu karena didesain untuk curang.
”Sekali lagi, permintaan maaf dari Ketua KPU tidak bisa diterima begitu saja,” pungkas Anthony. (adi/red)