Pecah Perang saat Umrah, Hamidah Berharap Negara Sudan Kembali Damai (Bagian-I)

  • Bagikan
TAK PENGARUH JARAK: Nakhwah Hamidah (kiri, jongkok) berada di Kampus International University of Africa di Sudan. Dia mengabil jurusan Ilmu Hadits di kampus tersebut. (foto:koleksi nakhwah hamidah)

NAKHWAH Hamidah, merupakan satu dari dua warga Bojonegoro yang harus dipulangkan ke Tanah Air karena perang di negara Sudan, Afrika yang masih berlangsung hingga kini. Lantas bagaimana Hamidah bisa sampai menempuh pendidikan nun jauh di Benua Hitam itu? Berikut laporan wartawan INDOSatu.co yang mewawancarai Hamidah di rumahnya.

Marwah Qurrota A’yun, BOJONEGORO

Hamidah, sapaan akrab Nakhwah Hamidah, merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Hamidah sendiri memiliki saudara kembar yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. ‘’Dari empat putra ibu, saya ini anak kembar. Kembaran saya masih kuliah di Makassar,’’ kata Hamidah membuka pembicaraan.

Hamidah mengaku, sejak awal memang punya cita-cita ingin kuliah di luar negeri. Ketika punya keinginan kuliah di luar negeri, putri pasangan Engkon Zarkoni dan Sri Ernawati itu juga tidak sempat berpikir berapa besar biaya yang akan ditanggung orang tuanya.

‘’Tapi, alhamdulillah akhirnya malah dapat beasiswa penuh dari International University of Africa, yang mencakup akomodasi, tempat tinggal, makan, dan biaya kuliah. Kita hanya menanggung biaya penerbangan untuk pulang dan balik dari Indonesia ke Sudan selama pendidikan,’’ kata Hamidah.

Hamidah sendiri mengungkapkan pendidikannya dihabiskan di lingkungan pendidikan pesantren. Selepas dari MIN 1 Kepatihan pada 2010, Hamidah langsung melanjutkan di Ponpes Modern Darussalam Gontor Putri, di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. Dia menempuh pendidikan selama 6 tahun ditambah pengabdian satu tahun. ‘’Jadi, saat studi di Gontor, saya tempuh selama tujuh tahun,’’ kata Hamidah.

Baca juga :   Haedar Resmikan Gedung At Ta’awun Tower dan Groundbreaking RSGM UM Surabaya
BERBAGI ILMU: Hamidah mengajari mengaji anak-anak Sudan.

Lulus dari Ponpes Gontor Putri, Hamidah sempat juga mencicipi kuliah di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro. Kuliah di kampus Jalan Ahmad Yani nomor 10 Bojonegoro itu, Hamidah hanya menempuh dua semester. Sebab, pada saat yang sama, pengajuan beasiswa kuliah di luar negeri ternyata dikabulkan oleh pihak International University of Africa.

Saat kuliah di UNUGIRI, Hamidah juga meluangkan waktu untuk kursus di BLK dan mengambil program tata boga, salon dan perhotelan. Tujuannya, untuk mengisi waktu luang sambil menunggu kejelasan beasiswa.

Kata Hamidah, kuliah di UNUGIRI tetap dijalani sambil menunggu pengumuman diterima atau tidak pengajuan beasiswa di Kampus International University of Africa dan beberapa kampus di luar negeri, termasuk di Universitas Al Azhar Mesir, dan Princess Nourah University di Arab Saudi.

‘’Waktu saya pengin kuliah ke Mesir, setelah menonton film Ayat Ayat Cinta dan saya juga pengin ke Princess Nourah University di Saudi. Kepincut di Princess Nourah karena kampus itu ada fasilitas kereta. Tapi qadarullah, waktu itu saya harus mengabdi dulu. Waktu itu saya mengabdi di Sulawesi selama satu tahun,’’ aku Hamidah.

Baca juga :   Ketua MPR RI Apresiasi Peran Penting Indonesia di Berbagai Forum Internasional

Saat ini, Hamidah sudah memasuki semester delapan di Universitas Internasional Afrika. Dia mengambil jurusan Prodi Ilmu Hadits. Saat perang saudara meletus, Hamidah sebenarnya tidak berada di Sudan. Dia saat itu memilih umrah untuk mengisi liburan semester ganjil. Karena itu, Hamidah bersama beberapa temannya melaksanakan umrah di Arab Saudi.

‘’Saya pergi umrah tanggal 5 April, sedangkan awal perang di Sudan terjadi pada 15 April. Jadi, saat perang berlangsung, posisi saya waktu itu ada di Madinah. Seharusnya saya balik ke Sudan tanggal 3 Mei. Karena perang makin meluas, oleh KBRI Sudan, kami diminta tetap stay di Madinah dan tidak usah balik ke Sudan,’’ kenang Hamidah.

Apalagi, publik di Tanah Air (Indonesia) juga meminta pemerintah Indonesia segera gerak cepat untuk melakukan evakuasi WNI dan mahasiswa yang ada di Sudan karena perang sudah mendekati ke kota. “Yang ikut evakuasi sekitar 1.200-an yang meliputi WNI, mahasiswa, dan tenaga kerja,” kata Hamidah.

TIDAK BERJARAK: Hamidah (kanan, jilbab hijau) bercanda dengan warga dekat tempat tinggalnya, di Sudan.

Informasi yang dihimpun dari teman-teman kuliah, saat evakuasi di Sudan dilakukan, rute untuk jalur darat ditutup. Karena perang terjadi sudah mendekati kota. Begitu juga dengan jalur udara. Karena itu, masuk ke Sudan saja, tidak bisa.

Baca juga :   Mahasiswa FK UM Surabaya Jadi Perwakilan Indonesia Research Exchange di Tunisia

Beberapa bandara di Sudan, kata teman Hamidah, juga dalam posisi lumpuh. Karena itu, teman-teman Hamidah yang berada di Sudan dievakuasi ke Jeddah melalui melewati jalur darat terlebih dahulu menuju Port (Pelabuhan) Sudan dengan jarak tempuh perjalanan 10-15 jam perjalanan naik bis.

‘’Setelah itu, baru menggunakan jalur laut untuk bisa sampai ke Jeddah melalui Laut Merah bisa sampai 20 jam. Alhamdulillah setelah di Jeddah langsung naik pesawat ada 4 kloter secara bergantian, sehingga kami sampai ke Tanah Air. Jadi, saya ketemu dengan teman-teman yang merasakan dan terdampak perang itu saat ada di Jeddah. Saat Evakuasi, penumpang hanya dibatasi membawa barang satu ransel yang isinya dokumen penting dan 1 baju ganti,’’ pungkas Hamidah.

Hamidah berharap, semoga perang di Sudan segera berakhir dan situasinya kembali normal seperti sebelum perang. Semoga Sudan kembali pulih dan damai. ‘’Saya juga berharap bisa segera balik ke Sudan, entah itu balik ke Sudan atau belajar secara online yang penting bisa meneruskan studi sampai selesai. Mohon doanya ya, Mbak,’’ pungkas Hamidah. (Bersambung)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *