Lahirkan 7 Poin Utama, Pimpinan Majelis Agama Sepakat Ciptakan Pemilu Damai dan Bermartabat

  • Bagikan
SERUAN DAMAI: Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar (pegang mik) didampingi pimpinan ormas islam dan pimpinan penyelenggara pemilu membaca 7 poin utama dalam Deklarasi Pemilu Damai dalam Silatnas MUI yang digelar di Grand Sahid Jaya Jakarta pada Selasa (16/1).

INDOSatu.co – JAKARTA – Sejumlah tokoh majelis-majelis lintas agama menghadiri Silaturrahim Nasional Pemilu Damai yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Grand Sahid Jaya Jakarta pada Selasa (16/1).

Para tokoh tersebut hadir dan ikut menyampaikan seruan perdamaian dan persatuan menghadapi gelaran Pemilu 2024 mendatang, di antaranya adalah Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia, Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt Gomar Gultom, Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia Antonius Subianto Bunjamin.

Selain itu, tampak hadir juga Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia Philip Widjaja, dan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia XS Budi Santoso Tanuwibowo.

Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia, Wisnu Bawa Tenaya menyampaikan, sejatinya Pemilu adalah sarana untuk memilih seorang pemimpin. Menurut dia, pemimpin adalah seorang leader untuk diteladani sekaligus seorang manajer untuk mengatur bangsa ini.

Menghadapi Pemilu kali ini, dia mengajak umat Hindu untuk mengingat kembali lagu kebangsaan Indonesia Tiga Stanza. Menurutnya, umat harus memilih pemimpin yang jelas memiliki kejujuran, adil, dan dapat membawa perdamaian.

“Semua warga negara Indonesia ingin rasa aman, damai, sejahtera, dan bahagia. Maka untuk itu kita harus ingat lagu kebangsaan Indonesia Tiga Stanza,” serunya.

Baca juga :   Akhirnya, Uji Kelayakan Calon Anggota BPK RI Ditunda

Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia, Philip Widjaja dengan jelas menyatakan sikap mendukung penuh komitmen adanya Pemilu yang damai, jujur, dan sejahtera.

Menurutnya, jujur adalah bentuk tanggung jawab kepada Tuhan, sedangkan adil dan damai adalah tanggung jawab kepada rakyat Indonesia.

Ketika dua tanggung jawab tersebut benar-benar diemban dan dilaksanakan dengan penuh amanah, menurutnya sangat mungkin terbentuk adanya Pemilu yang bermartabat di Indonesia.

“Maka nanti siapapun yang terpilih mari kita mendukung dan bersama kita melakukan kerja sama, melakukan hubungan yang baik, dan rukun untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan makmur,” harap dia.

Selain itu, Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia Antonius Subianto Bunjamin juga mengajak adanya persatuan yang kokoh sebagai sesama anak bangsa. Menurutnya, adanya bentuk penjajahan di Indonesia karena politik pecah belah.

Kemerdekaan Indonesia, kata dia, sejatinya adalah rangkaian historis adanya persatuan, kebangkitan nasional, sumpah pemuda, hingga proklamasi. “Seharusnya pesta (Pemilu) ini diliputi suka cita dan kesenangan, bukan ketegangan, serta persaudaraan dan bukan perpecahan,” kata dia.

Baca juga :   Masak untuk Pendukung AMIN Kampanye di JIS, Diani: Belum Sebanding dengan Kebaikan Pak Anies

Yang terakhir, seruan juga datang dari Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, XS Budi Santoso Tanuwibowo. Dia menyerukan syarat adanya Pemilu damai dan bermartabat hanya dapat diwujudkan dengan komitmen dari penyelenggara, pengawas, dan para pendukung Pemilu itu sendiri.

Dia menyerukan, keberadaan tokoh agama dan penyelenggara negara tidak hanya menjadi simbol pelaksanaan Pemilu semata, tetapi menjadi bentuk nyata adanya komitmen yang tinggi dan peduli terhadap nasib negara ke depan.

“Untuk itu, saya mengimbau kepada umat Konghucu untuk memilih pemimpin dengan hati nurani yang dalam. Bisikan bisa datang dari semua orang, tapi pastikan suara hati nurani yang menang,” seru XS Budi.

PEMILU PILIH PEMIMPIN: Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia, Wisnu Bawa Tenaya (tengah) mengatakan, pemimpin adalah seorang leader untuk diteladani sekaligus seorang manajer untuk mengatur bangsa.

Sementara itu, masih dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar memimpin Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan dalam Silaturahim Nasional.

Dalam deklarasi tersebut, sejumlah tokoh perwakilan dari ormas Islam, majelis-majelis agama, KPU, Bawaslu, TNI serta Polri turut membacakan deklarasi yang dibacakan Kiai Anwar.

Deklarasi Pemilu Damai ini, memuat 7 poin utama di dalamnya yaitu:

  1. Berkomitmen untuk menjaga dan mengawal proses demokrasi, sesuai tahapan Pemilu 2024 agar berjalan dengan aman, damai, jujur, adil dan bermartabat.
  2. Mengajak semua komponen bangsa untuk berpartisipasi aktif mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2024.
  3. Mengajak seluruh Warga Negara Indonesia yang memiliki hak pilih untuk menggunakan haknya dengan penuh tanggung jawab.
  4. Mengajak semua pihak untuk ikut aktif melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap setiap tahapan pelaksanaan Pemilu agar berjalan sesuai aturan, berlangsung secara aman, damai, jujur, adil dan bermartabat.
  5. Mengajak semua Pemangku Kepentingan, Paslon, Timses, Parpol dan Elite Politik untuk bersikap sportif dan taat azas dalam berkampanye dengan tidak menjadikan konten agama dan SARA sebagai bahan kampanye negatif dan bahan candaan.
  6. Mendesak seluruh komponen bangsa baik Pemerintah, peserta Pemilu maupun masyarakat untuk menerima hasil Pemilu yang dilaksanakan dengan Netral, jujur, adil dan bermartabat.
  7. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pemilu sebagai pesta demokrasi yang menjunjung perbedaan pilihan, namun tetap menjaga persaudaraan dan persatuan.
Baca juga :   Kebakaran Kilang Pertamina Dumai, Legislator PKB Pertanyakan Manajemen Perusahaan

Deklarasi yang disampaikan tersebut menjadi sikap MUI beserta tokoh-tokoh yang hadir dalam Silatnas untuk berkomitmen mengawal Pemilu damai dan bermartabat. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *