Kinerja GoTo Buruk, Pemegang Saham Perlu Suntikan Dana Segar untuk Exit

  • Bagikan
SIKAPI KLAIM BPS: Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menyikapi pertumbuhan ekonomu Maluku dan Papua yang tidak diikuti meningkatnya kesejahteraan warga di dua wilayah tersebut.

INDOSatu.co – JAKARTA – Jebloknya kinerja GoTo mendapat sorotan tajam dari Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS). Bahkan, dia menilai, fundamental bisnis GoTo sebagai “bakar uang” tersebut sangat rapuh.

Terbukti, pada kuartal kedua 2022, perusahaan patungan Gojek dan Tokopedia itu tercatat rugi Rp 7,56 triliun, lebih besar dari rugi pada kuartal pertama 2022 sebesar Rp 6,57 triliun. Dan akumulasi rugi per Juni 2022 juga meningkat menjadi Rp 92,8 triliun. ”Mungkin akan mencapai Rp 100 triliun per September 2022 ini,’’ kata Anthony kepada INDOSatu.co, Jumat (21/10).

Untuk menyelamatkan GoTo, kata Anthony, diperlukan suntikan likuiditas, untuk menghindari GoTO dari kebangkrutan. Anthony memperkirakan kira-kira targetnya Rp 15,5 triliun. Dana segar sebesar itu, mungkin hanya cukup untuk keperluan pendanaan 2 kuartal.

Baca juga :   Peningkatan Alokasi Pembiayaan Harus Diimbangi dengan Upaya Pemberdayaan UMKM

Karena terus merugi itulah, kata dia, harga saham GoTo merosot terus. Harga saham per hari ini Rp 206 per saham. Not Bad untuk perusahaan yang sedang rugi. Atau tepatnya perusahaan yang tidak pernah mendapat untung sejak didirikan 11 tahun yang lalu.

‘’Artinya, secara matematis, harga saham GoTo seharusnya anjlok lebih tajam lagi,’’ kata Anthony.

Dengan performance seperti itu, kata dia, GoTo tidak akan mampu bagi dividen, dan tidak boleh bagi dividen, selama masih ada akumulasi rugi, yang kemungkinan besar akan semakin membesar.

Kalau seperti itu kondisinya, kata Anthony, tidak ada yang diharapkan investor membeli saham GoTo. Juga tidak harapan bagi Telkomsel, anak perusahaan BUMN Telkom, dengan investasi “spekulatif” Rp 6,4 triliun di saham GoTo tersebut. Semuanya memang tidak jelas.

Baca juga :   Wujudkan Indonesia sebagai Negara Maju, Butuh Konsistensi Cetak Wirausaha Muda

‘’Yang jelas, investasi Telkomsel di GoTo sekarang sudah rugi lagi, mendekati Rp1,6 triliun,’’ kata Anthony.

Karena tidak ada dividen, kata Anthony, maka pengembalian investasi diharapkan dari kenaikan harga saham. Persoalannya, apakah mungkin? Sepertinya hampir mustahil. Bagaimana mungkin harga saham perusahaan yang sedang rugi bisa naik. ‘’Kecuali ada yang menaikkan,’’ kata Anthony.

Masa waktu lock-up 8 bulan akan segera berakhir, 30 November yang akan datang. Artinya, pemegang saham pendiri (lama) boleh menjual sahamnya. ‘’Exit. Siapa yang akan beli saham tersebut? Investor lokal? Hati-hati nantinya mangkrak!,’’ pesan Anthony.

Bagi pemegang saham lama, kata dia, jika bisa jual dengan harga Rp 100 per saham, sesungguhnya mereka sudah balik modal. dan jika bisa jual Rp 200 per saham, mereka akan untung 100 persen dari investasi mereka di GoTo. ‘’Karena itu, mereka berkepentingan menjaga harga saham tetap tinggi,’’ kata Anthony.

Baca juga :   Sesalkan Tambahan PMN Rp 3,2 T untuk Proyek KCJB, Aleg PKS: Tidak Jelas Untungnya

Dalam kondisi normal, investasi BUMN di perusahaan seperti ini bisa dianggap bermasalah, bisa menjadi temuan kerugian negara. Kondisi normal, artinya KPK independen dan profesional. Tapi saat ini kondisi sedang tidak normal. Telkom dan Telkomsel aman-aman saja.

‘’Waspada, resesi dunia kian dekat. Resesi juga akan mampir ke Indonesia. Bagaimana dengan prospek GoTo? Bagaimana dengan investasi “spekulatif” Telkomsel? Sulit berharap ada berita baik, karena kinerja GoTo akan semakin gelap gulita,’’ pungkas Anthony. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *