Ketum PBNU: Dalam Sejarah, NU Tidak Pernah Minta dan Merebut Jabatan

  • Bagikan
UTAMAKAN UNTUK BANGSA: Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan sambutan saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Semarang, Jawa Tengah Jumat (11/8).

INDOSatu.co – SEMARANG – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memastikan bahwa PBNU akan selalu istiqamah memperjuangkan kepentingan agama, bangsa dan dunia, bukan sekadar kepentingan organisasi, apalagi kepentingan orang perorang di PBNU.

“NU dari dulu tidak pernah minta (jabatan). Dari dulu, kiai kita ndak pernah nyodor-nyodorkan untuk merebut jabatan,” kata Gus Yahya saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Semarang, Jawa Tengah Jumat (11/8).

Baca juga :   Respon Harapan Publik, PP Muhammadiyah dan PBNU Sepakat Pemilu 2024 Digelar sesuai Jadwal

Sejak awal kemerdekaan, kata Gus Yahya, NU tidak pernah mementingkan golongan, apalagi keluarga. Bahkan, ada sebuah cerita di detik-detik kemerdekaan yang menunjukkan bahwa NU selalu mementingkan bangsa dan negara. Hal ini terbukti dengan cerita Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang tidak mendorong putranya, KH Wahid Hasyim, sebagai seorang presiden, tetapi justru Soekarno yang dipilih.

“Dulu itu menjelang kemerdekaan RI, di tengah intensnya pergulatan persiapan kemerdekaan dengan PPKI dan BPUPKI, di mana di situ KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) putra Hadratusyekh KH Hasyim Asyari menjadi salah seorang tokoh utama panitia 9,” kata Gus Yahya.
“Pada saat itu, ada seorang perwira Jepang namanya Naobuharo Ono. Dia ini seorang muslim alias Abdul Hamid. Dia ini nanya pada Hadratussyekh. Kiai kalau nanti Indonesia sudah merdeka betul siapa menurut Kiai yang pantas memimpin negara yang baru lahir ini?” lanjut Gus Yahya.

Saat ditanya Naobuharo Ono, kata Gus Yahya, “Kiai Hasyim dengan tanpa ragu-ragu menjawab Insinyur Soekarno. Padahal, putranya sendiri ini (KH Wahid Hasyim) tokoh utama. Kenapa ndak disebut ya kalau bisa Wahid Hasyim. Beliau dengan tanpa ragu menyebut Insinyur Soekarno.

Ketegasan Hadratussyekh ini, murni karena melihat yang terbaik untuk memimpin Indonesia pada waktu itu adalah Ir Soekarno.

“Maka, NU harus selalu berfikir tentang apa yang terbaik bagi bangsa dan negara. Ini bukan untuk NU sendiri. Kita tidak peduli dari mana asalnya yang penting yang terbaik untuk bangsa dan negara,” pungkas Gus Yahya. (*)

Baca juga :   Gus Yahya Umumkan 11 Perempuan Masuk PBNU. Berikut Daftar Namanya....
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *