INDOSatu.co – SEMARANG – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memastikan bahwa PBNU akan selalu istiqamah memperjuangkan kepentingan agama, bangsa dan dunia, bukan sekadar kepentingan organisasi, apalagi kepentingan orang perorang di PBNU.
“NU dari dulu tidak pernah minta (jabatan). Dari dulu, kiai kita ndak pernah nyodor-nyodorkan untuk merebut jabatan,” kata Gus Yahya saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Semarang, Jawa Tengah Jumat (11/8).
Sejak awal kemerdekaan, kata Gus Yahya, NU tidak pernah mementingkan golongan, apalagi keluarga. Bahkan, ada sebuah cerita di detik-detik kemerdekaan yang menunjukkan bahwa NU selalu mementingkan bangsa dan negara. Hal ini terbukti dengan cerita Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang tidak mendorong putranya, KH Wahid Hasyim, sebagai seorang presiden, tetapi justru Soekarno yang dipilih.
Saat ditanya Naobuharo Ono, kata Gus Yahya, “Kiai Hasyim dengan tanpa ragu-ragu menjawab Insinyur Soekarno. Padahal, putranya sendiri ini (KH Wahid Hasyim) tokoh utama. Kenapa ndak disebut ya kalau bisa Wahid Hasyim. Beliau dengan tanpa ragu menyebut Insinyur Soekarno.
“Maka, NU harus selalu berfikir tentang apa yang terbaik bagi bangsa dan negara. Ini bukan untuk NU sendiri. Kita tidak peduli dari mana asalnya yang penting yang terbaik untuk bangsa dan negara,” pungkas Gus Yahya. (*)