INDOSatu.co – JAKARTA – Dampak dari kebijakan Presiden Donald Trump yang resmi memberlakukan tarif impor tambahan, yang disebut tarif resiprokal memiliki dampak terhadap semua negara di dunia, termasuk Indonesia.
Bahkan, akibat kebijakan Trump tersebut, bursa saham global ikut berguguran. Indeks Dow Jones misalnya, turun sebsar 3,98 persen, S&P 500 turun 4,84 persen, Nasdaq turun 5,97 persen.
Di Eropa, indeks DAX Jerman juga turun 3,01 persen, FTSE 100 Inggris turun 1,55 persen, CAC 40 Perancis turun 3,31 persen, dan AEX Belanda turun 2,67 persen. Sebelumnya, indeks Nikkei 225 Tokyo anjlok 2,77 persen, Hang Seng Hong Kong minus 1,52 persen, Kospi Korea Selatan minus 0,76 persen.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan memiliki analisa tajam menyikapi kebijakan Trump tersebut. Menurut Anthony, kebijakan Trump itu terjadi lantaran dipengaruhi pola perdagangan dunia yang selama ini dianggap tidak adil dan merugikan Amerika Serikat.
Tarif impor AS selama ini relatif jauh lebih rendah dibandingkan tarif impor negara partner dagang lainnya, seperti China, dan juga Indonesia. Akibatnya, kata Anthony, neraca perdagangan AS mengalami defisit dengan hampir seluruh negara mitra dagang.
Defisit neraca perdagangan AS tahun 2022, 2023 dan 2024 masing-masing mencapai 951,2 miliar (2022), 773,4 miliar (2023), dan naik lagi menjadi 918,4 miliar dolar AS pada 2024.
Karena itu, kata Anthony, tak heran jika Trump memberlakukan tarif impor resiprokal untuk mengurangi defisit neraca perdagangan AS, dengan menyetarakan tarif impor AS dengan tarif impor negara mitra dagang lainnya.
Menurut Anthony, Trump mengenakan tarif impor dasar 10 persen kepada semua negara, ditambah tarif impor resiprokal yang besarnya bervariasi untuk setiap negara mitra dagang, tergantung dari berapa selisih tarif impor kedua negara saat ini, dengan memperhatikan apakah ada hambatan non-tarif terhadap produk AS.
Target Trump, kata Anthony, bahwa negara yang masuk daftar ‘Dirty 15’, yaitu 15 negara yang menyumbang defisit terbesar kepada neraca perdagangan AS. Indonesia juga masuk dalam daftar ‘Dirty 15’. Indonesia dikenakan tarif resiprokal 32 persen, di atas tarif dasar 10 persen.
”Negara yang dikenakan tarif resiprokal, termasuk Indonesia, hanya mempunyai dua pilihan. Turunkan tarif impor terhadap semua produk AS, atau menerima kenaikan tarif resiprokal dengan lapang dada,” kata Anthony kepada INDOSatu.co, Jumat (4/4).
Terkait kebijakan Trump tersebut, Anthony menawarkan pilihan ketiga. Jika Indonesia merasa tarif bahwa resiprokal Trump tidak benar, atau ngawur, maka Indonesia bisa membalas dengan menaikkan tarif impor tambahan, alias tarif resiprokal, terhadap semua produk AS, yang tentu akan dibalas lagi oleh Trump.
”Sejauh ini India tidak berani. Vietnam juga bersikap sama. Mereka memilih kompromi dan negosiasi. Yang jelas, dampak tarif resiprokal Trump sudah membuat ekonomi dunia terguncang, pasar saham global anjlok,” pungkas Ekonom Senior alumni Erasmus University, Rotterdam, Belanda itu. (*)