Jadi Pemicu Perpecahan Bangsa, Priyo: Hentikan Cebong-Kadrun Terulang di Pilpres 2024

  • Bagikan
JADI BAHAN RENUNGAN: Pendiri Pridem Institute, Priyo Budi Santoso mengingatkan perlunya menghentikan polarisasi Cebong-Kadrun yang bisa berujung pada perpecahan bangsa.

INDOSatu.co – JAKARTA – Statemen menarik datang dari pendiri Pridem Institute, Priyo Budi Santoso (PBS). Politisi senior itu berharap agar para begawan politik mencegah terulangnya disintegrasi Cebong-Kadrun pada Pilpres 2024 mendatang.

Priyo pun merujuk sikap kenegarawanan yang ditunjukkan Surya Paloh, yang dinilainya bisa menginspirasi para tokoh bangsa lainnya. Kata Priyo, saat ini bangsa Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) besar dalam menghadapi potensi perpecahan bangsa dan gesekan sosial.

Dalam kondisi bangsa seperti itu, tidak heran jika publik tersentak atas pidato orasi tokoh nasional Surya Paloh, saat menerima gelar kehormatan Doktor (HC) di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur belum lama ini.

“Saya menyampaikan salut dan hormat atas pidato orasi Abangda Surya Paloh yang hebat dan inspiratif tentang warning bahayanya perpecahan bangsa,” ungkap Priyo dalam siaran persnya, Senin (1/8).

Baca juga :   Ungkap Dalang Curang, Prof. Dimyati: Hak Angket DPR Baik untuk Perbaiki Demokrasi

Surya Paloh, menurut Priyo, sedang membangunkan pikiran berpolitik yang selama ini tertidur dari iklim politik ‘ora mikir’ dan ‘telat mikir’ yang abai terhadap bahaya perpecahan bangsa.

Menurut Priyo, orasi tingkat begawan politik ini disampaikan pada waktu dan momentum yang tepat, karena mau memasuki tahun politik pilpres dan pileg yang sudah di depan mata.

Dijelaskan Priyo, fenomena Cebong vs Kadrun terbukti menjadi pemicu yang mempertajam polarisasi masyarakat di tengah perpecahan bangsa yang semakin mengganga.

‘’Pertikaian isu sektarian yang terus dipelihara adalah diskursus yang tidak mencerdaskan, bahkan makin menambah luka sosial yang destruktif,’’ kata pria asal Tulungagung, Jawa Timur ini.

Baca juga :   Sambangi KPU Provinsi Gorontalo, Fadel Muhammad Harap Tidak Ada Penundaan Pemilu 2024

Kesengajaan melanggengkan Buzzer-Cebong-Kadrun, kata Priyo, sama saja membiarkan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar tatanan sosial bangsa.

Politik identitas, lanjut Priyo, sebenarnya lumrah dalam politik dan demokrasi. Identitas merupakan trademark dan ciri khas perjuangan suatu kelompok politik. Ini given dalam politik.

Bahkan, dalam sejarah politik pada pemilu 1955, kata dia, pernah mengalami ragam politik identitas yang sangat berwarna. Politik identitas nasionalis, komunis, agamis juga tampil mengemuka. Namun, lanjut dia, Pemilu 1955 justru menjadi pemilu yang paling orisinil dan demokratis.

“Jadi, kuncinya ternyata para tokoh politik zaman itu berdinamika dalam tradisi dan koridor moralitas politik yang wisdom,” ungkap Priyo sambil menambahkan bahwa Orasi Surya Palohadalah orasi yang mencerahkan bangsa.

Karena itu, Priyo mengajak para begawan dan tokoh-tokoh bangsa seperti Presiden Jokowi, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Try Sutrisno, dan para Ketua Umum partai politik ternama, seperti Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, AHY, Syaikhu, Zulkifli Hasan, maupun Suharso Monoarfa untuk merenungkan pemikiran Surya Paloh itu.

Baca juga :   Nomor Urut Capres-Cawapres oleh KPU: Anies-Gus Imin 1, Prabowo-Gibran 2, dan Ganjar-Mahfud 3

“Para tokoh yang saya sebutkan di atas nantinya menjadi penentu lahirnya blok koalisi partai politik dalam pencalonan presiden mendatang,” papar Priyo.

Dijelaskan Priyo, dengan sudah ditolaknya uji materi ambang batas pencalonan presiden, maka mereka adalah harapan agar pilpres mendatang tidak lagi hanya melahirkan dua blok besar yang langsung berhadap-hadapan. ‘’Hasil Pemilu 2019 yang menghasilkan polarisasi yang begitu tidak boleh terulang lagi. Perpecahan bangsa akibat Cebong-Kadrun harus dihentikan,” pungkas Priyo. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *