Jadi Pembicara Musda IX HIPPI, Fadel Muhammad: HIPPI Harus Tumbuhkan Pengusaha Menengah

  • Bagikan
TULARKAN ILMU: Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad berharap agar HIPPI ikut menumbuhkan pengusaha kelas menangah,lebih banyak agar perekonomian menjadi tumbuh dan lebih sehat.

INDOSatu.co – JAKARTA – Perpindahan Ibu Kota Turki dari Istanbul ke Ankara tidak menjadikan Istanbul menjadi sepi. Pemindahan ibu kota yang terjadi malah membuat Istanbul menjadi kota yang sangat luar biasa. Bandar udaranya menjadi terbesar di dunia dan menjadi tempat transit ke berbagai kota di dunia. Pun demikian pemindahan Ibu Kota di Amerika Serikat dari New York ke Washington.

Statemen tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad saat menjadi pembicara dalam Musyawarah Daerah IX Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Jakarta, 7 Desember 2022. Acara yang digelar di salah satu hotel di Jakarta itu bertema “Mewujudkan Jakarta sebagai Pusat Bisnis dan Ekonomi Pasca Pemindahan Ibukota”.

Lebih lanjut Fadel mengatakan ketika ibu kota tidak lagi di Jakarta, Jakarta dikatakan akan tetap menjadi kota bisnis yang luar biasa. Diungkapkan Fadel, bahwa perputaran uang di Indonesia, 91 persen ada di Jakarta. Demikian pula rekening yang ada di Indonesia, 90 persen ada di Jakarta. Jadi, menurut Fadel tidak mudah meninggalkan Jakarta begitu saja sebagai pusat bisnis.
.
Saat ini, menurut anggota DPD dari Provinsi Gorontalo itu, bagaimana memikirkan tantangan Jakarta ke depan. “Jakarta tetap menjadi pusat bisnis dan di Kalimantan Timur menjadi pusat pemerintahan”, tuturnya. Dikatakan Fadel, MPR juga pernah diundang ke Korea Selatan untuk melihat bagaimana proses pemindahan ibu kota di sana.

Baca juga :   Suara Parpol Terbelah soal Amendemen UUD

Menurut pria yang pernah menjadi Gubernur Gorontalo dua periode itu, tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana mengubah struktur ekonomi yang ada. Kalau dilihat dari bentuk struktur ekonomi yang ada, struktur perekonomian bangsa ini seperti piramida. Pengusaha besar jumlahnya kecil. Pengusaha menengah juga tidak terlalu banyak. “Tetapi jumlah pengusaha kecil banyak sekali”, ungkap alumni ITB Bandung itu.

Baca juga :   Libatkan Semua Pihak, Lestari Moerdijat: Darurat Literasi Harus Segera Diatasi Bersama

Menurut Fadel, bentuk struktur ekonomi yang demikian tidak sehat. Struktur ekonomi yang sehat dikatakan bila bentuknya seperti belah ketupat. “Tengah-tengahnya besar”, ujarnya. Bentuk struktur ekonomi yang seperti belah ketupat, disebut harus didorong oleh HIPPI. Untuk itu, misi anggota HIPPI adalah bagaimana mendorong kelompok menengah ini menjadi besar. Di organisasi ini perlu membuat kebijakan yang mengarah ke sana.

Tak hanya itu yang disarankan oleh Fadel. Dia juga berharap pemerintah harus mereposisi kebijakan ekonominya. Disarankan, ada kebijakan yang sifatnya intervensi dengan skala terbatas. Hal demikian disebut tidak sulit. Kebijakan seperti ini pernah dilakukan saat dirinya menjadi Gubernur Gorontalo.

Kebijakan yang demikian diibaratkan dengan suasana yang ada di Soekarno-Hatta International Airport. Di bandar udara itu dibuat eskalator. Tujuan dibangun eskalator supaya orang yang berjalan di tempat itu menjadi cepat sampai tujuan. Bila dirinya bepergian dengan anak-anak kecilnya,  Fadel mendorong anaknya berada di eskalator sementara ia berada di luar eskalator. “Sehingga saat tiba di tempat tujuan hampir bersamaan”, ungkapnya.

Baca juga :   BPS Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, Aleg DPR RI: Itu Bukan Prestasi

Dalam perekonomian, HIPPI perlu berpikir seperti itu. Tidak perlu menyetop konglomerat. Silahkan saja konglomerat berjalan, namun ditegaskan perlu ada kelompok lain yang jalannya perlu dipercepat. Konsep-konsep tersebut, menurut pria yang juga menjadi Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Malang itu, perlu dibuat oleh HIPPI. “Hal demikian harus diperjuangkan oleh HIPPI. Kita harus ubah strategi,” kata Fadel.

Menurut Fadel, setiap orang bisa menjadi pengusaha asal ada kemauan dan semangat. Kewirausahaan adalah ada di kepala. Menjadi pengusaha harus sekuat tenaga. Sebab, tidak ada sesuatu yang besar di dapat tanpa kerja keras dan kerja cerdas. “Seorang penggusaha itu juga berpikir ke depan dan mampu membaca potensi yang ada”, paparnya, (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *