Iklim Investasi Pertambangan Makin Tidak Kondusif, Dua Investor Eropa Mundur

  • Bagikan
ADA MASALAH SERIUS: Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menyoroti mundurnya dua perusahaan asal Eropa yang mengelola proyek pertambangan di Indonesia.

INDOSatu.co – JAKARTA – Iklim investasi pertambangan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Betapa tidak, beberapa perusahaan asal Eropa yang bergerak di bidang proyek pengelolaan kawasan pertambangan di Indonesia memilih undur diri. Hal itu menandakan ada masalah serius terkait kebijakan pertambangan sekarang ini.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto, meminta Pemerintah peka dengan situasi ini dan segera melakukan pembenahan. Pemerintah tidak boleh abai dan membiarkan beberapa perusahaan besar mundur tanpa ada penjelasan dan keterangan apapun.

Baca juga :   Rupiah Anjlok, Komisi VII DPR: Pemerintah Jangan Terburu-buru Naikan Harga BBM

“Mundurnya perusahan kimia terbesar asal Jerman, Badische Anilin und Soda Fabric (BASF) dan perusahaan pertambangan dan metalurgi asal Prancis, Eramet, dari proyek Sonic Bay di Maluku Utara mengkonfirmasi masalah itu,” kata Mulyanto dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta.

Pemerintah, kata Mulyanto, dianggap tidak mampu memberikan kenyamanan dan keamanan investasi yang ingin dibangun. Karena itu, kata Mulyanto, wajar perusahaan multinasional yang sudah berpengalaman mengkaji ulang keputusan untuk investasi di sini. ”Mundurnya dua perusahaan besar itu tidak boleh hanya dianggap lalu saja,” tandas Mulyanto.

Baca juga :   Sambut Pemerintahan Prabowo, 71 Organisasi Buruh dan Ojol Kumpul, Hasilkan Resolusi Melawai

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI itu menyebut, beberapa indikator rusaknya iklim investasi di antaranya tingginya indeks korupsi di Indonesia, turunnya kepercayaan publik pada lembaga penegak hukum, instabilitas politik dan ruwetnya koordinasi perizinan pertambangan antara Kementerian ESDM dan Kementerian Investasi.

Menurut Mulyanto, situasi tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan (trust) investor untuk berinvestasi di Indonesia. Walaupun mungkin, terutama disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi investasi, namun faktor politik sangat mempengaruhi persepsi atas kepastian hukum, yang berujung pada iklim investasi di Indonesia.

Baca juga :   Gas LPG 3 Kg Langka, Mulyanto: Presiden Tak Boleh Buang Badan, Tegur Erick Thohir

Investor, kata Mulyanto, mempelajari kondisi ini tentunya, yang merupakan bagian dari mitigasi risiko investasi.

“BASF dan Eramet ini kan dua investor dari Eropa. Kita perlu lihat nanti bagaimana respons investor dari negara lain, terutama dari Tiongkok,” terangnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *