ICMI Bojonegoro dan Arah Juang

  • Bagikan

WAKIL PRESIDEN Ma’ruf Amin mengatakan kehadiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bagi bangsa, bukan sekadar wadah perkumpulan para tokoh. Lebih dari itu, ICMI menjadi simbol perkembangan gelombang perubahan umat Islam Indonesia sejak dibentuk pada tiga dekade silam.

Bangsa ini telah menyaksikan kiprah ICMI dalam berbagai aspek penting membawa Indonesia ke arah kemajuan,” tutur Wapres saat Milad ke-31 ICMI 2021 di Bandung dikutip harian Replubika. Kolaborasi ICMI bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) menginisiasi pendirian Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama di Indonesia. Lalu, penerbitan harian Republika menjadi media mengedepankan religi.

ICMI  mendirikan Asuransi Tugu Mandiri dan Asuransi Takaful, lalu bersama-sama MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, membentuk Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) sebagai wadah penguatan kegiatan kewirausahaan.

Sinergi ICMI dengan arah gagasannya, juga mengenalkan konsep bank wakaf. ICMI harus menjadi warna ketika lembaran kertas terasa keruh. ICMI berupaya menjadi penerang ketika gelap melanda. Dan, ICMI menjadi peneduh ketika terik panas terasa menyengat.

Baca juga :   Memaknai 99 Tahun Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia (Bagian-2)

Cendekiawan muslim tidak bisa berdiri sendiri. Sebaliknya, harus bersinergi, kolaborasi, dan bersama-sama dalam ikatan memajuan bangsa. Ibarat sapu lidi, bila lidi berdiri sendirian tentu tidak sulit untuk membersihkan dedaunan yang rontok di halaman.

Sebaliknya, bila lidi-lidi ini diikat dalam satu ikatan, bisa menjadi kekuatan dan mudah menyapu sampah bertebaran. Itulah kekuatan ICMI, bila cendekiawan muslim berserikat, gagasan akan muncul demi kebaikan bersama.

ICMI Orda Bojonegoro memegang teguh prinsip tersebut. Bangkit, dan Bersinergi Memajukan Indonesia, menjadi spirit para anggota ICMI Bojonegoro dalam pelantikan berlangsung Sabtu, 13 Mei 2023.

ICMI Orda Bojonegoro memasuki lembaran baru. Senyampang masih Syawal 1444 Hijriyah, menjadi jejak awal ICMI Orda Bojonegoro untuk berperan dalam memajukan daerah dan bangsa. Kekuatan ICMI bukan pada personal. Atau tokoh dan ulama yang masuk dalam jajaran ICMI Orda Bojonegoro. Namun, daya ungkit ICMI pada kekuatan sinergi dan kolaborasi bersama.

Baca juga :   Ketua KPU Hasyim Asy’ari: Game Over, Tak Layak Dilanjutkan

Lalu, apa gerak ICMI yang nyata? Tentu, ICMI akan memberi daya ungkit meneguhkan sosok-sosok muslim yang bertebaran tersebut menjadi cendekiawan. Mengajaknya berkolaborasi menjadi pemikir (mufakkirun) yang peduli pada agama dan bangsa dalam wadah kebersamaan ini.

Bojonegoro menyimpan emas para cendekiawan yang masih tersembunyi. Mereka lulusan kampus dan pondok pesantren (ponpes) yang memiliki potensi besar dengan ide dan gagasannya untuk umat.

Kajian-kajian dihidupkan. Jagongan keagamaan dirutinkan. Halaqah-halaqah kebangsaan diseringkan. Silaturahmi cendekiawan muslim digerakkan. Diskusi-diskusi agama dan sosial diintensifkan. Seperti lirik lagu Tombo Ati, tertulis: “Kaping telu, wong kang Sholeh kumpulono”.

ICMI harus berperan dengan maksimal. Bersinergi dengan semua pihak, kemudian hasil-hasil diskusi dan halaqah-halaqah itu dirumuskan sebagai bahan masukan pembuat kebijakan publik.

Baca juga :   Gara-gara Ulah Fufufafa, Roy Suryo: Ibu Pertiwi Kembali Hamil Tua

Ke depan, ICMI berupaya meneguhkan arahnya bersama santri-santri di ponpes berkolaborasi menelurkan gagasan dan ide yang bersimpul pada keagamaan dan sosial. ICMI juga akan menggandeng akademisi dan perguruan tinggi di Bojonegoro, untuk mangayubagyo ide dan gagasan untuk kemajuan daerah dan bangsa.

Sekali lagi, ICMI harus menjadi warna. Bila bangsa belum bisa keluar dari teror korupsi. Setidaknya, ICMI bisa mewarnai dengan edukasi dan pelatihan melawan korupsi. Bila serangan hoaks kian marak dan melilit bangsa, ICMI harus membantu mencegahnya.

Beragam workshop diperlukan untuk mencegah bangsa terbelah karena krisis identitas yang bising di media sosial. Bangsa ini butuh cendekiawan muslim berserikat. Berdiri di atas semua golongan. (*)

Drs. H. Hanafi, M.Pd;
Penulis adalah Mustasyar PCNU Bojonegoro Periode 2019-2024 dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Bojonegoro Periode 2021-2026.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *