INDOSatu.co – JAKARTA – Hasil survei yang dilakukan Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiah (PTMA) pada 28 Desember 2023 sampai 3 Januari 2024 lalu menunjukkan bahwa, Pilpres 2024 akan berlangsung dua putaran. Sebab, tidak ada satu pun pasangan calon yang memperoleh elektabilitas 50 persen plus satu.
Capres-cawapres Anies-Muhaimin memperoleh suara sebesar 23,27 persen, Prabowo-Gibran 40,97 persen, dan Ganjar-Mahfud 15,81 persen. Sementara responden yang menjawab belum tahu sebanyak 10,24 persen dan yang menjawab rahasia atau tidak menjawab sebanyak 9,7 persen.
“Ini akan dua putaran,” jelas dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Dr. Wakhudin, M.Pd dalam keterangananya kepada wartawan, Jumat (2/2).
Terlebih menurut Wakhudin, elektabilitas Prabowo-Gibran itu sudah maksimal. Kemungkinan tidak akan meningkat lagi. Padahal, kata dia, selama ini pemerintahan Jokowi sudah menunjukkan dukungan kepada pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut, tapi tingkat keterpilihannya tetap di kisaran 39-40-an persen.
“Jumlah itu sudah maksimal. Kampanye di lapangan Prabowo-Gibran juga sedikit yang datang,” sambungnya.
Menurut Wakhudin, pada putaran kedua nanti pasangan AMIN akan lolos dan berhadapan dengan Prabowo-Gibran. Capres-cawapres nomor urut 1 ini berpotensi mengalahkan Prabowo-Gibran karena kelompok nasionalis tidak bersatu.
Apalagi kalangan PDIP sejak awal kecewa terhadap pencalonan putra Presiden Jokowi, Gibran, yang berpasangan dengan Prabowo. Sehingga kubu Ganjar-Mahfud diyakini akan mendukung pasangan AMIN.
“Sekarang kelompok nasionalis terpecah. Karena persoalan sakit hati dan macam-macam. Jadi 03 (Ganjar-Mahfud) akan gabung ke 01 (AMIN). AMIN bisa menang di putaran kedua,” ucap Wakhudin.
Belum lagi, sekarang menguat di kalangan masyarakat gerakan “asal bukan Prabowo” dan gerakan empat jari yang menyimbolkan persatuan paslon 01 dan paslon 03. Di samping itu, suara Prabowo-Gibran juga berpotensi untuk turun di putaran kedua.
“Kalau terjadi dua putaran, saya yakin mereka (pendukung Prabowo-Gibran) yang berpikir lebih jernih akan berpindah. Jadi (elektabilitas) 41 (persen) itu sudah stagnan, bahkan bisa menurun. Karena selama ini yang datang ke kampanye (Prabowo-Gibran) juga diduga tidak lepas dari faktor adanya iming-iming,” tandasnya.
Bagi Wakhudin, yang menarik dari hasil survei Forum Rektor PTMA ini adalah konstelasi politik Indonesia belum berubah dari zaman awal kemerdekaan hingga sekarang. Di mana komposisi kelompok masyarakat nasionalis sebesar 60 persen dan religius 40 persen.
Dalam konteks Pilpres 2024, pasangan Prabowo-Gibran dan pasangan Ganjar-Mahfud MD adalah kelompok nasionalis, sedangkan pasangan Anies-Muhaimin representasi kaum religius.
“Suara pasangan Prabowo ditambah suara pasangan Ganjar adalah 40,97 persen ditambah 15,81 persen sama dengan 56,78 atau 60 persen kurang sedikit. Kekurangan suara mereka masih berada pada suara yang tidak tahu dan rahasia,” ujarnya.
Sedangkan suara pasangan Anies-Muhaimin 23,27 persen atau separuh lebih sedikit dari patokan suara religius 40 persen. Ini menunjukkan bahwa kaum religius masih merahasiakan pilihannya.
“Rumus abadi menurut saya adalah (kelompok) nasionalis selalu 60 persen. Dari dulu komposisinya seperti itu. (Kelompok) religius itu 40 persen. Tapi praktiknya tidak selamanya bersatu. Seperti sekarang kelompok nasionalis terpecah ke 02 dan 03,” tandasnya.
Pada Pilpres 2024 ini, pasangan AMIN diusung oleh NasDem, PKS, dan PKB, serta didukung Partai Ummat. Sementara paslon Prabowo-Gibran didukung Gerindra, Golkar, Demokrat, dan PAN, serta didukung PSI, dan Gelora. Terakhir, Ganjar-Mahfud MD dijagokan PDIP, PPP, Hanura, dan Perindo. (*)