INDOSatu.co – JAKARTA – Nilai kurs rupiah yang mendekati, bahkan sudah tembus Rp15.500 per dolar AS mengundang keprihatinan banyak kalangan. Mereka khawatir akan masa depan bangsa. Yang bikin miris, Pemerintah sepertinya juga tidak berdaya dan buntu solusi untuk mengatasi masalah krusial tersebut.
‘’Ini baru tahap awal. Kondisi ekonomi akan lebih buruk di tahun-tahun mendatang, menjelang pemilu dan pemilihan presiden (Pilpres) 2024,’’ kata Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) kepada INDOSatu.co, Rabu (19/10) pagi.
Anthony menengarai, bahwa saat ini ekonomi dunia akan masuk resesi, dan mungkin bisa berkepanjangan hingga 2024 mendatang. Karena suku bunga dunia, ungkap dia, termasuk Indonesia, akan terus naik hingga inflasi terkendali.
Dengan kenaikan suku bunga, jelas Anthony, dipastikan bakal menekan perekonomian, investasi akan menjadi menurun, serta pola konsumsi masyarakat juga dipastikan mengalami penurunan. ”Yang pasti, perekonomian akan menuju kontraksi,’’ kata Anthony.
Persoalannya, kata Anthony, apakah para calon presiden (capres) yang akan ikut kontestasi pilpres 2024 menyadari bahaya ekonomi tersebut. Hal ini tentu akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bangsa kedepan.
Selain itu, ungkap Anthony, apakah para capres juga dapat mengatasinya dengan cepat. Lebih miris lagi, kondisi tersebut juga diperparah hutang Indonesia yang terus melambung tinggi. ‘’Apakah mereka (capres, Red) siap mengatasi ekonomi yang akan masuk resesi, serta mengatasi utang pemerintah yang mendekati Rp 9.000 triliun pada akhir 2024 mendatang itu.
Pertumbuhan ekonomi, jelas dia, merupakan tantangan utama Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, pemahaman ekonomi sangat kritikal bagi calon presiden 2024, agar dapat membawa bangsa ini keluar dari resesi secepatnya.
Selain kondisi ekonomi, Anthony juga menyoroti sistem politik presidential threshold (PT) 20 persen yang dinilai menjadi penghalang bagi para calon pemimpin nasional terbaik untuk ikut partisipasi dalam pilpres. ‘’PT ini sangat memalukan dan sekaligus menjadi skandal besar bangsa ini,’’ kata dia.
Anthony menyebut bahwa, salah satu anak bangsa yang memiliki semua persyaratan dan kualifikasi sebagai calon presiden adalah Rizal Ramli. Yang belum dimiliki oleh mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu hanya kuota presidential threshold (PT) 20 persen itu.
‘’Sekali lagi, PT itu sungguh memalukan, dan ini merupakan skandal besar juga, jika Rizal Ramli tidak dapat ikut kontestasi pilpres 2024, karena sistem demokrasi “kriminal” akibat PT 20 persen itu,’’ pungkas Anthony. (adi/red)