Dukung Pertumbuhan Ekonomi, Anthony: Negara Harus Perhatikan Pelaku Ekonomi Domestik

  • Bagikan

INDOSatu.co – JAKARTA – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kebijakan negara terkait investasi harus melibatkan dan memberi keberpihakan kepada pelaku ekonomi domestik.

Pemerintah tidak boleh hanya memberi karpet merah kepada investor asing, tetapi harus memberi keberpihakan kepada pelaku domestik. Antara lain, memberi stimulus dan akses finansial kepada perusahaan kecil dan menengah, dan bukan malah menghambatnya.

“Pemerintah harus bisa memberlakukan kebijakan untuk meningkatkan daya saing internasional bagi perusahaan kecil dan menengah agar dapat meningkatkan ekspor. Antara lain memberi asistensi dalam proses produksi untuk meningkat kualitas agar dapat memenuhi standar internasional, atau memberi subsidi ekspor untuk meningkatkan daya saing, khususnya kepada pelaku ekonomi kecil dan menengah,” kata Anthony kepada INDOSatu.co, Selasa (7/5).

Baca juga :   Kecam Aksi Premanisme, Barisan Pro Demokrasi: Negara Harus Tegakkan Supremasi Hukum

Dia menilai, pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif akan memberi dampak pertumbuhan ekonomi akan tertatih-tatih, dan ketimpangan pendapatan dan kekayaan akan semakin lebar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga hanya mengandalkan sektor komoditas sumber daya alam dan mineral. Kenaikan harga komoditas memicu pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi.

”Tetapi sebaliknya, ketika harga komoditas turun seperti terjadi saat ini, pertumbuhan ekonomi tertekan. Sektor komoditas ini sekaligus memperlebar jurang kesenjangan sosial,” kata Doktor alumni Erasmus University, Rotterdam, Belanda itu.

Baca juga :   Lagi, Jokowi Perpanjang PPKM hingga 2 Agustus

Anthony berhara, pemerintah bisa memberi akses ekonomi secara adil kepada seluruh masyarakat, khususnya lapisan bawah. Akses ekonomi harus terbuka lebar untuk mayoritas penduduk Indonesia, termasuk akses faktor produksi (lahan) dan akses finansial.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi selama ini tidak inklusif, karena masih ditemukan diskriminasi ekonomi antara pemodal besar versus rakyat.

Baca juga :   Subsidi KRL Bakal Dicabut, Anthony: Pejabat Tidak Kompeten, Rakyat Jadi Korban

Distribusi lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan dikuasai oleh segelintir orang saja yang bisa mendapat puluhan, ratusan dan bahkan jutaan hektare. Tetapi disisi lain, distribusi pendapatan juga semakin timpang.

“Sekitar 168 juta penduduk atau sekitar 60,5 persen dari jumlah penduduk pada 2022 mempunyai pendapatan kurang dari Rp 1,1 juta rupiah per orang per bulan. Berdasarkan pendapatan, maka koefisien ketimpangan pendapatan (GINI) mencapai paling sedikit 0,55. “ Ini artinya, sangat timpang dan rawan konflik sosial,” pungkas Anthony. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *