Dihadapan Pemred, Hadapi Tahun Politik 2024, Haedar: Negara Tidak Boleh Terlibat dalam Kontestasi

  • Bagikan
GUYUB DENGAN PERS: Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti memberi sambutan kepada para pemred press gathering antara PP Muhammadiyah dengan dengan pemred media cetak dan elektronik nasional di Kantor PP Muhammadiyah di Menteng, Jakarta, Senin (7/11).

INDOStu.co – JAKARTA – Muhammadiyah akan tetap menjaga diri dari politik, meski tak terlalu jauh. Karena itu, posisinya menjelang tahun politik 2024, dituangkan ke dalam poin di dalam materi isu-isu strategis dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah pada 18-20 November mendatang.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara Media Gathering, Senin (7/11) di Kantor PP Muhammadiyah, di Menteng, Jakarta menuturkan bahwa, masalah tahun politik 2024 tergabung dalam sembilan isu-isu strategis tentang kebangsaan.

Dalam isu suksesi kepemimpinan, Muhammadiyah memandang bahwa pemilu 2024 merupakan kontestasi yang krusial. Haedar berharap pada pemilu nanti ada suasana baru yang membedakannya dengan tahun 2019. Menurut dia, pemilu 2019 menyisakan ‘pertikaian’ yang seakan tak berujung.

Baca juga :   Sidang Pleno I Selesai, Haedar: Muhammadiyah Bergerak dalam Koridor Berkemajuan

“Apa sih suasana baru itu? Pertama, kita tidak mengulangi lagi yang selama ini kita resahkan bersama, yaitu pembelahan politik,” ucapnya.

Menurut Haedar, agar kejadian serupa tidak terulang, maka harus menghindari hal-hal yang membuatnya terbelah. Misalnya, dengan menghindarkan politisasi identitas agama, suku, ras dan golongan, bahkan ideologi tertentu. Semua ini jika ditarik dalam urusan politik terlalu dalam, akan menimbulkan pembelahan.

Cara selanjutnya, yakni menghadirkan negara dengan segala kekuatan pranatanya, namun tidak ikut terlibat dalam kontestasi. “Ini penting agar kita tidak terlibat dalam subjektivikasi politik yang akhirnya ketika terjadi pembelahan menyebabkan negara tidak bisa menjadi kekuatan yang berwibawa,” ungkapnya.

Baca juga :   Pantau Pelaksanaan Haji 1444 Hijriah, Cak Imin Pimpin Timwas Haji Tahap II DPR RI

Kewibawaan negara ini penting sebagai penengah atas terjadinya pembelahan yang menyebabkan ketidakseimbangan tubuh bangsa akibat polarisasi politik. Kewibawaan tersebut akan hilang jika negara ikut serta dalam kontestasi.

Selain itu, lanjut Haedar, untuk mencegah kejadian pembelahan sebagaimana pemilu 2019, kekuatan masyarakat seperti organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah supaya menjaga jarak dari kontestasi itu. Terkait ini, Muhammadiyah konsisten berada pada posisinya menjaga jarak.

“Terakhir, tentu kita ingin lahirnya para elit siapapun yang diusung partai manapun, baik di partai politik, di kekuatan-kekuatan masyarakat yang menjadi penyangga dari kontestasi, baik dari relawan maupun calon eksekutif betul-betul menjadi negarawan,” tuturnya.

Baca juga :   Jadi Pondasi Utama, Haedar Ingatkan Urgensi Rekonstruksi Tauhid dalam Beragama

Saat ini, tambah Haedar, menciptakan ruang publik untuk kontestasi 2024 itu adalah ajang para negarawan untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, di atas kepentingan diri, kelompok, kroni, dinasti dan orientasi kekuasaan yang tak berkesudahan.

Menghadapi kontestasi politik 2024, Guru Besar Sosiologi ini mengingatkan tentang pentingnya persatuan bangsa yang satu paket dengan Bhineka Tunggal Ika. Dialektika antara perbedaan dan persatuan ini tidak mudah, oleh karena itu memerlukan manajemen. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *