Dihadapan 500 Pendeta se-Jawa Timur, Risma Beber Sikap Adil bagi Seorang Pemimpin

  • Bagikan
AYOMI SEMUA AGAMA: Calon gubernur Jawa Timur, Tri Rismaharini menyamapaikan pidato saat bertemu dengan ratusan ormas Kristen dan 500 pendeta se- Jawa Timur yang digelar di Hotel Vini Vidi Vici, Surabaya, Kamis (7/11).

INDOSatu.co – SURABAYA – Selain diterima kalangan muslim, Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3, Tri Rismaharini juga disambut baik oleh kalangan non muslim. Hal itu terlihat saat mantan Walikota Surabaya tersebut menghadiri forum diskusi yang digelar Gerakan Nasional Indonesia Bersatu (Ganesa).

Menariknya, diskusi tersebut juga dihadiri sekitar 500 pendeta dan pemimpin organisasi Kristen se-Jatim itu digelar di Hotel Vini Vidi Vici, Surabaya, Kamis (7/11). Tidak hanya dihadiri organisasi Kristen, kegiatan tersebut juga dihadiri Niniek Henny Dyah ES, Ketua Umum Ganesa beserta perwakilan dari berbagai organisasi etnis kedaerahan yang ada di Jawa Timur.

Dalam forum tersebut, Tri Rismaharini menyampaikan bahwa menjadi pemimpin memiliki tantangan yang sangat berat. Sebab, kata Risma, seorang pemimpin harus mampu mengayomi masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan, agama maupun etnis serta ekonomi yang berbeda.

Baca juga :   Hasil Evaluasi Komisi II, Pimpinan DPR Nyatakan Komisioner DKPP Aman

“Terus terang berat saat saya dicalonkan Ibu Ketua Umum sebagai Calon Gubernur Jawa Timur, karena itu tidak mudah, sebab hal yang paling sulit sebagai pemimpin adalah adil,” ucapnya.

Risma pun menceritakan berbagai pengalamannya terkait keadilan saat masih menjadi aparatur sipil negara (ASN) hingga menjabat sebagai Walikota Surabaya. Misalnya, dia pernah menjadi Wakil Ketua RT sebelum menjadi walikota, dan suatu saat ada tetangganya yang meninggal malam hari. Risma bertanya apakah warga tersebut boleh dimakamkan di pemakaman setempat, katanya boleh. Namun saat mau dimakamkan malah tidak boleh.

“Untungnya saat itu saya menjadi Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan yang mengurusi makam, sehingga saya buatkan makam bagi tetangga saya di Ngagel,” ujar Risma.

Risma juga memaparkan pengalamannya saat mendampingi keluarga korban Air Asia, di saat ada yang menuduhnya tidak bekerja. Bahkan menyampaikan hal rasisme ketika ia berkantor di Polda Jatim selama mengawal kejadian tersebut.

Baca juga :   Datangi Pendemo di Semarang, Moeldoko: Bukti Negara Peduli HAM

“Ada yang ngomong, mengapa Walikota Surabaya ada di situ dari pagi sampai malam, padahal (korbannya) bukan umat muslim dan banyak yang Chinese. Saya jawab sepanjang itu di wilayah Surabaya, maka itu tanggung jawab saya,” ungkapnya.

Selanjutnya Risma juga menceritakan kejadian bom bunuh diri di Surabaya pada saat ia menjabat walikota. Menurutnya, dibutuhkan keberanian sebagai seorang pemimpin, terlebih terjadinya tiga kali bom di hari yang sama.

“Saat pertama kali terkena bom, betapa sedihnya saya, terlebih ketika saat bom kedua lagi, kemudian saat bom ketiga, saya salat dan saya ngomong dalam hati saya, Risma kamu tidak boleh jadi pengecut, kamu harus di depan wargamu,” ucap Risma.

Saat itu, Risma akhirnya menginstruksikan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mempersiapkan konferensi pers apabila terjadi lagi bom pada saat itu.

Baca juga :   Isu Reshuffle Menguat: Sufmi Dasco Layak Gantikan Mahfud MD

“Saya akhirnya memanggil Kabag Humas, saya sampaikan kalau ada bom lagi, saya siapkan konferensi pers, akan saya tantang itu semua, hadapi saya Walikota Surabaya, jangan buat ribut warga saya (warga Surabaya, Red),” paparnya.

Risma mengaku, selama ini beberapa hari berkeliling ke gereja-gereja untuk memastikan warga Surabaya aman. Selain itu Risma menyatakan, apabila ada murid yang di sekolahnya tidak tersedia guru agama, agar bisa menyampaikan kepadanya. Sebab, pendidikan agama adalah suatu hal yang wajib didapatkan oleh para siswa apapun latar belakang agamanya.

“Kalau memang di sekolah ada kekurangan guru agama, baik Kristen, Katolik, Hindu atau apapun agamanya, tolong sampaikan ke saya. Apabila sekolah tidak mampu membayar maka provinsi yang akan bayar. Karena anak-anak kita harus dididik sejak kecil soal agama,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *