Dibalik Isu Peralihan Pertalite ke Pertamax 92 Green, Politisi PKS Curigai Ada Mafia Impor

  • Bagikan
CURIGAI MOTIF POLITIK: Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto menduga hanya untuk transaksi izin usaha tambang yang diberikan pemerintah kepada ormas.

INDOSatu.co – JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto, mensinyalir rencana Pemerintah menghapus penggunaan BBM jenis Pertalite lalu menggantinya dengan Pertamax 92 Green tidak murni untuk kepentingan lingkungan.

Mulyanto malah menduga ada kepentingan mafia impor bioetanol di balik rencana ini. Sebab, Pemerintah mengusulkan program ini berjalan pada tahun 2024, meskipun Indonesia belum memiliki pabrik bioetanol yang memadai.

Baca juga :   Mulai 1 Oktober 2023 Beli LPG 3 Kg Dicatat, Mulyanto: Mekanismenya Bagaimana?

“Kita patut curiga motif apa yang membuat Pemerintah akan mengimplementasikan program ini. Karena nyatanya Industri bioetanol lokal, salah satu bahan pembuatan Pertamax 92 Green, belum memungkinkan. Kalau kebutuhan bioetanol untuk produksi Pertamax 92 Green harus impor, maka sama juga bohong. Negara akan makin tergantung pada impor. Sementara masyarakat tidak memiliki pilihan membeli BBM murah,” kata Mulyanto dalam keterangannya, Jumat (15/9).

Baca juga :   Soal Somasi Sentul City, Rocky Gerung: Siapkan Gugatan Class Action

Karena itu, Mulyanto meminta Pemerintah menunda pelaksanaan program ini. Ia menganjurkan Pemerintah membangun industri bioetanol dalam negeri lebih dahulu untuk menunjang produksi Pertamax 92 Green.

“Tanpa didukung industri bioetanol dalam negeri, niat Pemerintah mengganti Pertalite dengan Pertamax 92 Green hanya akan mengulang kesalahan yang selama ini dilakukan. Padahal, ke depan kita harus semakin mengurangi ketergantungan pada produk impor,” kata Mulyanto.

Baca juga :   Isu Perpanjangan Izin PTFI, Mulyanto: Capres-Cawapres Perlu Diangkat dalam Kampanye

Mulyanto menegaskan, Fraksi PKS DPR RI menolak rencana penggantian Pertalite ke Pertamax 92 Green pada tahun 2024. Sebab, hal itu hanya akan menyisakan BBM berharga mahal bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, kata dia, saat ini kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat belum pulih benar pasca-pandemi Covid-19.

“Masyarakat masih memerlukan BBM dengan harga terjangkau untuk menunjang kegiatan ekonomi sehari-hari,” tutup Mulyanto. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *