INDOSatu.co – JAKARTA – Pernyataan Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yang sesumbar, bahwa pengusaha satu per tiga menguasai ekonomi Indonesia dan siap memenangkan Prabowo-Gibran satu putaran belum lama ini memantik pengusaha yang lain untuk bersuara.
Kini muncul pernyataan tandingan dari konglomerat lainnya, Sofjan Wanandi, yang mendukung pasangan calon presiden Ganjar-Mahfud.
”Pernyataan Sofjan Wanandi dapat dimaknai sebagai bantahan keras terhadap pernyataan Boy Thohir, bahwa pengusaha satu per tiga menguasai ekonomi Indonesia mendukung pasangan Prabowo-Gibran,” kata Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan kepada INDOSatu.co, Selasa (30/1).
Bahkan sebelumnya, kata Anthony, beberapa kelompok konglomerat yang disebut Boy Thohir, antara lain Djarum Group, Sampoerna Group, Adaro Group, juga menyangkal pernyataan Boy Thohir terkait dukungan kepada Prabowo-Gibran. Mereka mengatakan, upaya pemenangan satu putaran Prabowo-Gibran adalah pendapat Boy Thohir pribadi. Tidak mewakili kelompok grup manapun.
Pernyataan Sofjan Wanandi tersebut juga tidak bisa dianggap remeh. Sofjan Wanandi adalah sosok konglomerat yang sudah lama malang melintang di dalam perekonomian Indonesia.
Sofjan Wanandi dikenal sebagai “juru bicara” para konglomerat di era Soeharto, yang juga dikenal dengan kelompok Prasetiya Mulya, atau kelompok Jimbaran. Mereka adalah para konglomerat kelas kakap yang diminta Presiden Soeharto mendirikan universitas Prasetiya Mulya.
Karena itu, kata Anthony, pernyataan Sofjan Wanandi yang mendukung Ganjar-Mahfud dapat dimaknai sebagai pernyataan sikap, bahwa sebagian konglomerat ada yang menolak dan melawan Joko Widodo.
Sebagai catatan, Sofjan Wanandi juga pernah menolak permintaan Soeharto terkait pengalihan sebagian saham konglomerat kepada koperasi milik rakyat.
Pernyataan Sofjan Wanandi juga menandai perpecahan dan pertempuran sesama konglomerat dalam menyikapi pilpres 2024 ini: pertempuran konglomerat pendukung 02 melawan konglomerat pendukung 03.
Lalu bagaimana posisi pasangan nomor 1 Anies-Cak Imin (AMIN)? Apakah AMIN akan menjadi pelanduk, yang akan mati di antara pertarungan dua gajah: Dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah?
Melihat popularitas Anies-Imin, dan antusiasme masyarakat yang hadir pada setiap kesempatan kampanye, atau pada setiap pertemuan Anies-Imin dengan masyarakat, terlihat jelas Anies-Imin didukung oleh kekuatan massa riil yang sangat besar, massa militan yang menginginkan perubahan, massa militan yang melawan Joko Widodo dan dinasti politik, yang bersumpah, Joko Widodo sudah cukup.
”Melihat popularitas Anies-Imin tersebut, tentu tidak terlepas kemungkinan bahwa adanya konglomerat poros ketiga, the silent majority, yang juga merapat ke pasangan AMIN,” kata Anthony.
Kontestasi pilpres 2024 semakin seru. Perlawanan masyarakat dan pengusaha kepada Jokowi semakin terbuka. Joko Widodo semakin terpojok dan melemah. ”Dinasti politik Joko Widodo akan menjadi bagian sejarah kelam bangsa Indonesia,” pungkas Anthony. (adi/red)