INDOSatu.co – JAKARTA – Kritikus dan Pemerhati Politik Kebangsaan Faizal Assegaf menilai, ikhwal cawe-cawe Joko Widodo dalam kontestasi Pilpres 2024 menyulut terjadinya perpecahan diantara para loyalis Megawati Soekarnoputri. Di kandang banteng, terjadi aksi celeng disematkan pada manusia.
‘’Ini yang seolah-olah Istana seperti memposisikan partai politik menjadi kebun binatang,’’ kata Faizal kepada INDOSatu.co, Ahad (20/8).
Selain celeng, praktik politik lompat monyet juga tak kalah norak dilakoni Ketum Golkar, PAN dan PKB. Terkesan terlilit kasus dan dipaksa oleh intervensi kekuasaan untuk mendukung Prabowo Subianto.
Tak beda dengan yang sedang ramai di medsos, Prabowo justru asyik menggembala Budiman Sudjatmiko sebagai kader celeng PDIP. Ini merupakan drama politik paling jorok yang terjadi di jagat politik di tanah air.
‘’Ini yang saya nilai terjadi perpaduan antara dusta, kelicikan dan ambisi perburuan kekuasaan yang saling melengkapi,’’ kata Faizal.
Kata Faizal, Budiman sempat dihebohkan dengan proyek mangkrak Rp 18 triliun, kini berganti topeng dari banteng ke celeng. Julukan itu mengkonfirmasi tuduhan loyalis Megawati lainnya, yakni Bambang Pacul beberapa waktu lalu.
“Kalau kader partai yang keluar barisan atau ikut-ikutan deklarasi ya celeng, bukan barisan banteng lagi,” tegas Bambang Pacul. Penegasan ‘celeng’ bagi kader PDIP yang tidak loyal dan berkhianat pada komando Ketua Umum.
Sebelumnya, reaksi keras itu menyasar sejumlah politisi PDIP yang mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres. Lucunya, Ganjar juga sempat dituding celeng, namun belakangan diperhalus perannya menjadi petugas partai jilid dua.
Apakah Budiman Sudjatmiko dukung Prabowo layak disebut kader celeng? Faizal langsung mengamini. Bila merujuk sikap tidak setia pada keputusan Megawati dan PDIP yang telah mengusung Ganjar, tentu terjadi pengkhianatan terkait kasus tersebut. ‘’Biar publik yang menilai,’’ kata mantan aktivis 98 itu singkat.
Lepas dari polemik tersebut, ihwal celeng, monyet, anjing atau nama binatang lainnya, itu soal lain. Tapi harus diakui, praktik politik gorong-gorong Jokowi telah merusak demokrasi menjelang 2024.
‘’Tidak hanya menjadi celeng, namun politisi yang mengklaim sebagai ‘Macan Asia’ pun, berubah jadi kucing jinak di emperan kekuasaan. Politik tanpa kejujuran, esensinya jauh lebih hina dari binatang. ‘’Sah! Budiman Sudjatmiko jadi kader celeng PDIP,’’ pungkas Faizal. (adi/red)