INDOSatu.co – BOJONEGORO – Rezeki tak bisa dikejar. Begitu kira-kira filosofi Syahru Romadhon dalam menjalankan usahanya. Bermula pada 2019 silam, pria berusia 30 tahun itu mulai mengembangkan hobinya, yakni merawat ayam petarung. Sayang, hobi itu hanya ditekuni sebentar. Tak lama kemudian, dia beralih dan membudidayakan ayam hias, yakni ayam ekor lidi. Usaha ini tampaknya tak sia-sia. Kini, usaha yang dia geluti itu telah beromset belasan juta rupiah setiap bulan.
Bertempat di rumahnya, di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Romadhon memulai ternak ayam ekor lidi yang ia datangkan langsung dari negeri jiran, Malaysia. Awalnya dia hanya beli tiga ekor di awal tahun 2019 silam itu.
Diakuinya, usaha yang ia geluti ini merupakan pengalihan perawatan ayam, yang sebelumya dirinya merawat ayam petarung. Dia beralih karena pasar ayam hias ekor lidi sangat menjanjikan dari pada ayam petarung. Padahal, biaya perawatannya sama.
Dari awalnya tiga ekor ayam yang dia rawat itu, kini di rumahnya sudah terdapat lebih dari seratus ekor ayam hias ekor lidi. Dalam pengembangbiakan ayam tersebut, dia menjodohkan sendiri ayam lidi miliknya dengan bantuan alat penetas berupa inkubator miliknya dengan suhu 35-40° celcius. Telur-telur itu akan menetas di usia 20-21 hari.
Untuk harga, Romadhon mematok sangat beragam. Untuk bahan satu ekor ayam hias ekor lidi sebesar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, tergantung kualitas ayam tersebut. Namun untuk harga ayam hias ekor lidi yang siap kontes biasanya ia mematok harga antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Untuk pemasarannya, dia telah melayani pesanan konsumen dari berbagai pulau di indonesia, bahkan ayam yang ia ternak ini telah ia ekspor negara Malaysia.
“Alhamdulilah selama tiga tahun ini perkembangan ternak ayam lidi kian hari kian bagus, karena permintaan konsumen sendiri yang sesama penghobi ayam hias semakin hari semakin banyak, jika dibandingkan dengan ayam petarung. Menurut saya, lebih bagus beternak ayam ekor lidi dibanding ternak ayam petarung. Padahal, biaya perawatannya sama,” kata Romadhon.
Sedangkan untuk omset, ungkap Romadhon, setiap bulannya dia mampu meraup untung sebesar Rp 15 sampai Rp 20 juta-an. (*)