Bansos Jor-joran Ditengarai Jadi Penyebab Langka dan Mahalnya Beras di Pasaran

  • Bagikan
PERLU DICARI SOLUSI: Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah memperketat impor tektil dari China menyusul banyak PHK keryawan di sektot industri tekstil tersebut.

INDOSatu.co – JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menengarahi, langka dan mahalnya beras di pasaran selama beberapa bulan terakhir ini bisa jadi akibat dari kebijakan bansos yang salah penerapan.

“Kondisi ini mengkhawatirkan karena dapat menurunkan daya beli masyarakat terhadap bahan pokok. Padahal, sebentar lagi kita memasuki bulan suci Ramadan dan Idul Fitri di mana kebutuhan akan bahan pokok meningkat,” kata Netty dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (23/2).

Baca juga :   Soal Kehadiran Gus Muhaimin di Acara 1 Abad NU di Sidoarjo, Gus Jazil: Kita Belum Tahu

Netty tidak sependapat dengan pemerintah yang menyebut langka dan mahalnya beras di pasaran karena perubahan cuaca yang membuat hasil panen turun. Alasan adanya El Nino dan gagal panen bukanlah faktor tunggal yang membuat beras menjadi langka dan mahal.

”Kebijakan bansos yang ugal-ugalan tanpa memikirkan ketersediaan pasokan juga menjadi faktor penyebab beras langka,” katanya.

Baca juga :   Bela Anies, Haji Lulung: Ngaca Dulu, Emang Giring Siape?

“Bansos jor-joran ini tidak urgen sebagaimana pada masa pandemi Covid-19. Anehnya lagi, bansos jelang pemilu kemarin lebih sering dan lebih banyak ketimbang pada masa pandemi. Pemerintah harus berani mengakui dan mengevaluasi kebijakan tersebut,” tambahnya.

Karena itu, Netty meminta pemerintah melakukan langkah-langkah penanggulangan dengan aksi nyata daripada sibuk klarifikasi soal bansos dan kelangkaan beras.

Baca juga :   Bentrok di Sukabumi, Anggota PP Tewas, Markas BPPKB Dibakar

Tanggung jawab negara, kata Netty, untuk menyediakan bahan pangan murah dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Segera atasi kelangkaan dan kemahalan ini dengan cara-cara efektif, seperti operasi pasar dan kontrol distribusi.

”Pastikan tidak ada kelompok yang bermain di air keruh, misalnya, adanya penimbunan guna mengeruk keuntungan,” tandas politisi yang juga istri mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan ini. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *