Antisipasi Dokter Asing, Dekan FKIK: Dokter Alumni UMY Harus Tingkatkan Soft Skill

  • Bagikan
TANTANGAN BARU: Dr. dr. Sri Sundari, M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (kiri) saat menyerahkan ijazah kepada salah satu dokter baru alumni UMY.

INDOSatu.co – YOGYAKARTA – Dokter baru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)  memiliki kewajiban untuk berkiprah dalam memajukan kualitas kesehatan di Indonesia. Karena itu, diberlakukan atau tidak terkait rencana dokter asing ke Indonesia, dokter alumni UMY harus siap bersaing dengan cara meningkatnya soft skill.

Pernyataan tersebut disampaikan Dr. dr. Sri Sundari, M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam acara Pelantikan dan Sumpah Dokter Periode LXXXII (82) di Ballroom UMY Student Dormitory. Dalam acara tersebut, sebanyak 22 dokter baru UMY angkatan 82 secara resmi dilantik dan mengucap sumpah dokter.

Seperyi diberitakan, tersiar kabar bahwa sejak 2023 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) berencana mendatangkan dokter asing ke Indonesia, sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Baca juga :   Mendunia, Film Lies Karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY Diputar di SWIFF

Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra di kalangan dokter Indonesia. Pasalnya, wacana tersebut dirasa akan mengancam posisi-posisi yang semestinya dapat diisi oleh dokter baru hasil lulusan Indonesia.

Sri Sundari mengatakan, guna mengantisipasi jika kebijakan tersebut benar-benar diberlakukan, maka alumni kedokteran UMY harus terus mengembangkan skill. Dan untuk menunjang kualitas tersebut,  FKIK UMY akan terus melakukan pembaharuan ilmu dan mengembangkan keahlian menjadi keharusan yang perlu dilakukan secara konsisten.

“Seperti yang kita ketahui bahwa Menteri Kesehatan sudah membuka peluang bagi dokter asing untuk masuk ke Indonesia. Karena itu, untuk melaksanakan profesi mulia ini, seorang dokter harus menggunakan dua hal utama dalam bertindak, yaitu rasio dan hati nurani secara beriringan. Sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas kesehatan di Indonesia,” jelas Sri Sundari.

Baca juga :   Terus Wujudkan sebagai Kampus Unggul dan Islami, UM Yogyakarta Tambah 4 Guru Besar

Dengan demikian, selama 31 tahun, kiprah UMY yang telah meluluskan 4.098 dokter semakin nyata dirasakan oleh masyarakat. Saat ini alumni Fakultas Kedokteran UMY telah bekerja, baik sebagai profesional, klinisi, dosen, birokrat, dan lain sebagainya.

Sri Sundari juga meyakini, bahwa bertindak dengan rasio yang baik dan didasari oleh hati nurani dapat dipastikan bisa memberikan kebermanfaatan yang utuh bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Sementara itu, Wakil Rektor bidang Sumber Daya Manusia, Prof. Dr. Nano Prawoto, S.E., M.Si. yang hadir mewakili Rektor dalam acara tersebut menyebutkan, keberhasilan seorang dokter baru ditentukan dari hard skill dan soft skill. Hasil riset menunjukkan soft skill menjadi indikator keberhasilan utama dengan persentase sebanyak 80 persen, sedangkan 20 persen sisanya didukung oleh hard skill .

Baca juga :   Perkuat Rekognisi Nilai Keislaman, UMY Raih Peringkat 3 Besar PTS se-Indonesia

“Dalam riset, soft skill yang paling dibutuhkan adalah komunikasi. Dengan adanya komunikasi yang nyaman, baik, dan memotivasi menjadi penentu pertama dalam keberhasilan. Saya meyakini kemampuan hard skill dokter baru di sini pasti sudah ada di atas rata-rata, tetapi untuk komunikasi perlu terus ditingkatkan dan dipraktikkan dalam dunia nyata kedokteran,” tandasnya.

Nano pun berpesan agar dokter baru angkatan 82 dapat menjadi tenaga medis yang profesional, unggul, beretika, dan terpenting memiliki keunggulan dalam hal soft skill. Sebab, dokter menjadi salah satu profesi yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia, bahkan dunia. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *