INDOSatu.co – JAKARTA – Calon Presiden nomor 1 Anies Rasyid Baswedan menyoroti berbagai persoalan utama yang mendera bangsa saat ini ketika menyampaikan program kerja dan visi-misi dalam debat capres di Gedung JCC, Jakarta, Ahad (4/2).
Capres yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar ini menyebut persoalan terbesar bangsa Indonesia hari ini adalah ketimpangan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan.
Mulai dari ketimpangan antara Jakarta dan luar Jakarta, Jawa luar-Jawa, kaya-miskin, desa-kota, pendidikan umum dengan pendidikan agama, hingga ketimpangan antara pendidikan kejuruan dan pendidikan teknis.
“Ini semua adalah ketimpangan yang hari ini menjadi fenomena membahayakan bagi republik ini. Bahkan di bidang perekonomian, segelintir orang menguasai sebagian besar perekonomian kita,” ucap Anies.
Secara lebih detail, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengungkap, bahwa saat ini 45 juta orang belum bekerja secara layak dan lebih dari 70 juta orang tidak mempunyai jaminan sosial.
“Bicara pendidikan jauh dari kota, terpencil, masa depan jadi suram. Kemampuan tinggi, kesempatan tidak ada. Sangat frustrasi melihatnya. Kesehatan mental, kekerasan seksual lebih 15 juta orang menjadi korban. Ini problem yang tidak menjadi kepedulian segelintir elite. Ini adalah kepedulian rakyat Kebanyakan,” tegasnya.
Padahal, dia mengingatkan, 60-an orang pendiri bangsa ini yang tergabung dalam BPUPKI ini berasal dari kaum terdidik yang mendapatkan privilege.
“Tapi mereka mendirikan Republik untuk semua, bukan mendirikan Republik untuk kepentingan dirinya, golongannya ataupun keluarganya. Mereka mendirikan ini untuk semuanya,” tandasnya.
Karena itu Anies bertekad untuk meneruskan dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa tersebut. Terlebih dia juga berangkat dari seorang akademisi, intelektual yang merupakan latar belakang para pendiri bangsa ini.
“Ketika para pendiri itu kaum intelektual mereka memilih berjuang di jalur politik, saya berangkat sebagai pengajar mendapat panggilan tugas di wilayah politik. Kami akan membawa gagasan pendiri republik untuk kembali mewarnai republik ini untuk bisa mengarahkan republik ke depan agar kembali pada format awal,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui tema yang diangkat pada debat kelima capres ini adalah tentang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, kebudayaan, teknologi informasi, kesejahteraan sosial, dan inklusi. (*)