Anies Memang Fantastis!

  • Bagikan

SEPERTI terbentur-terbentur kemudian terbentuk. Anies Baswedan mampu melewati jalan penderitaan atas pilihan pengabdiannya. Gubernur Jakarta periode 2017-2022 itu, mampu menampilkan politik karakter yang rendah hati dan humanis di tengah gelombang resistensi konspirasi jahat. Menghadapi Pilpres 2024, capres pilihan rakyat itu seperti sedang memproklamasikan kemuliaan akhlak akan selalu mendahului amanat yang diberikan kepada seorang pemimpin.

Dalam stigma politik itu kotor, Anies mampu memberi warna baru. Bukan hanya integritas, Anies juga telah membuktikan, bahwa akhlak seorang pemimpin mutlak diperlukan dalam menjalankan roda pemerintahan. Betapa pun badai, isu, intrik, dan fitnah menerjang Anies ketika menjabat gubernur Jakarta. Anies telah berhasil memberi contoh bagaimana kekuasaan tidak serta-merta diraih dan dipertahankan dengan segala cara.

Framing dan stereotip serta kecenderungan konspirasi jahat tidak harus selalu dihadapi dengan sikap reaksioner. Kebencian dan permusuhan hanya bisa dihadapi dengan ketenangan dan kesabaran. Kejahatan tak harus dibalas kejahatan. Keraguan dan rasa pesimis hanya bisa dijawab dengan kinerja dan prestasi. Begitulah Anies membangun identifikasinya, membentuk kharisma dan kewibawaan personalnya.

Baca juga :   Keajaiban dan Potensi Kejahatan Quick Count

Tak terhitung upaya mendiskreditkan, membunuh karakter dan persekongkolan menjegal Anies sebagai seorang pemimpin sekaligus calon presiden potensial pada pilpres 2024. Anies bergeming sekalipun serangan dan tendensi penolakan terhadap keberhasilan kepemimpinannya mengemuka melalui buzzer, haters dan influencer yang disinyalir dibayar menggunakan uang negara. Anies juga mampu melewati rintangan dari rekayasa sosial dan politik berkedok kebijakan struktural dan konstitusional.

Begitu besar dan tak pernah berhenti upaya menjatuhkan, hingga Anies tak bisa menjadi capres. Saking dianggap berbahaya dan mengancam kepentingan kelompok tertentu seperti oligarki dan ternaknya. Atmosfer politik nasional yang kini masih dkendalikan rezim boneka, masih menghembuskan udara propaganda dan agitasi asal bukan Anies sebagai presiden masa depan Indonesia.

Sisa-sisa gerakan pembusukan terhadap Anies yang masih menempel pada narasi politik identitas, tak mampu membentung arus dukungan rakyat terhadap figur Anies, terutama dari mayoritas umat Islam. Penggunaan entitas kesukuan dan keagamaan secara ekstrem demi kepentingan sesaat yang justru kental melekat kuat dan dipelopori oleh sosok Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, tak bisa mencegah simpati, empati dan euforia rakyat kepada Anies.

Baca juga :   Memaknai 99 Tahun Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia (Bagian-3)

Memori kolektif dan kesadaran publik seolah menegaskan Anies telah menjadi fakta dan nyata sebagai pemimpin nasionalis religius yang menjunjung tinggi kebhinnekaan dan kemajemukan bangsa. Anies tak terbantahkan menjadi pemimpin yang pluralis, menghormati dan menghargai keberagaman. Karena itu, fenomena Anies seperti bola salju yang terus menggelinding dan membesar menangkap kerinduan, harapan dan aspirasi rakyat akan kehadiran seorang pemimpin yang adil, beradab dan bersungguh-sungguh membawa kemakmuran bagi seluruh tumpah darah Indonesia.

Dengan demikian, pilpres 2024 yang tak lama lagi berlangsung, hanya berfungsi memberikan legalitas atas legitimasi rakyat terhadap didapuknya Anies sebagai seorang presiden. Sikap santun, sabar dan konsistensinya mengedepankan ahlak dalam berpolitik telah menjadi verifikasi dan validasi pemimpin yang layak menjadi nahkoda bagi perahu besar bernama Indonesia. Memperbaiki kerusakan, membangun kembali dan menempatkan NKRI yang terhormat dan bermartabat, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam pergaulan internasional.

Baca juga :   Jokowi Bisa Dipenjara

Dengan kemampuannya menderita dan ketetapan hatinya sebagai pemimpin yang telah memilih jalan penderitaan bagi kemaslahatan rakyat, negara dan bangsa. Anies memang layak dan telah menjadi presiden de facto sekalipun pilpres belum dilangsungkan. Kini dan akan terus bertambah, jutaan rakyat yang tersebar di seluruh pelosok negeri, mengelu-elukan dan mendukungnya. Rakyat arus bawah yang bisa jadi dikomandoi partai Nasdem, Demokrat, PKS, PPP, PAN dan sebagainya telah menjadi energi, instrumen kampanye sekaligus supporting sistem Anies menjadi presiden Indonesia. Insyaa Allah.

Anies memang fantastis!. (*)

Yusuf Blegur;
Penulis adalah Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 1999-2002.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *