Andai Jokowi Masih seperti Dulu

  • Bagikan

WACANA tiga periode jabatan presiden terus digulirkan. Mulai Menteri Investasi Bahlil Lahadalia hingga tiga ketua umum partai, yakni Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar; Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan; dan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Dengan bahasa halus, berturut-turut mereka mewacanakan penundaan Pemilu. Dengan bahasa lain, jika penundaan Pemilu terjadi, berarti membuka kans jabatan presiden otomatis akan mengalami perpanjangan.

Edan. Kok bisa mereka bermufakat jahat melanggar konstitusi dan mengkhianati suara rakyat. Saya tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran para pengusul tiga periode ini. Apa yang ada di dalam pikiran mereka, sampai tega-teganya mempunyai usulan yang tidak bermutu ini.

Saya menjadi curiga. Jangan-jangan, wacana ini memang sengaja dimunculkan untuk testing water saja. Dan Pak Jokowi menikmatinya. Jokowi menyuruh ‘abdi partai’, para ketua partai koalisi untuk bersuara. Tentu dengan iming-iming imbalan tertentu. Entah jabatan, entah apa. Hanya mereka yang tahu.

Baca juga :   Memaknai 99 Tahun Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia (Bagian-1)

Setahu saya, para ketua umum partai ini orang-orang hebat dan pintar. Kok tiba-tiba (meminjam istilah Bung Rocky Gerung) menjadi dungu bagai kerbau dicocok hidungnya. Ada apa ini? Apa mereka sudah tersandera kasus, sehingga disuruh lempar isu tiga periode, mereka oke-oke saja.

Apa mereka sudah lupa cita-cita reformasi, kok malah merindukan penguasa yang otoriter? Apa mereka tidak bisa memberitahu kepada Jokowi bahwa dua periode dulu saja, nanti kalau mau jadi presiden lagi maju lagi tahun 2029. Apalagi, konon katanya hasil survei popularitas dan tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi lebih dari 73 persen.

Menurut hemat saya, tahun 2024 nanti, kasih kesempatan kepada orang lain untuk maju. Tentu sangat elegan kalau Pak Jokowi mau seperti ini. Akan tetapi, kalau sampai memaksakan kehendak, apa yang sudah dikerjakan selama ini akan hilang dilupakan rakyat, gara-gara usulan tiga periode yang tidak pupolis serta menimbulkan citra buruk bagi demokrasi itu.

Baca juga :   Kesepakatan Jokowi-Xi Jinping, Miliki Potensi Resiko Laten

Setahu saya, Jokowi adalah sosok yang sangat peduli terhadap suara rakyat. Kesuksesan memimpin Solo, DKI Jakarta dan periode pertama sebagai Presiden RI, sangat layak untuk diapresiasi. Jangan sampai ‘ide gile’ tiga periode ini diteruskan. Saya yakin Pak Jokowi tidak mau melanggar konstitusi.

Andai Pak Jokowi masih seperti dulu, rendah hati, dan suka mendengar suara rakyat, saya yakin rakyat pasti segan dan menaruh hormat. Saya adalah salah seorang yang saat itu terpikat dan yang pertama mengusulkan Jokowi maju menjadi gubernur DKI Jakarta.

Baca juga :   Jusuf Kalla, La Ode Umar dan Politik Identitas

Karena itu, meski mengoreksi terkait usulan perpanjangan tiga periode, tak lupa saya mengucapkan selamat memeringati Isra’ Mi’raj bagi seluruh umat Islam. Selamat Isra’ Mi’raj buat Pak Jokowi, pliss jangan melanggar konstitusi dan selamat juga buat para ketua umum partai. Di saat Isra’ Mi’raj ini, kembalilah ke jalan yang benar. Dan kalau mau buat keputusan, kata kawan muslim saya, mbok ya istikharah dulu, minta petunjuk kepada Tuhan, mumpung dalam suasana Isra’ Mi’raj.

Siapa tahu, Tuhan memberi petunjuk untuk Anda, para ketua umum partai untuk berkompetisi di 2024 menjadi capres atau cawapres. Sebagai ketua umum partai, Anda-anda sangat layak menjadi presiden menggantikan Pak Jokowi. Masak tidak bosan menjadi ‘abdi dalem politik’ terus seperti selama ini. (*)

Lieus Sungkharisma;
Penulis adalah Aktivis Sosial dan Politik, tinggal di Jakarta.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *