INDOSatu.co – SEMARANG – Kelompok Perempuan Nongkosawit dan Karang Taruna melakukan pencegahan terhadap kenakalan remaja. Melalui program Strengthening Public Services through the Empowerment of Women-Led Advocacy and Social Audit Networks (SPEAK), yang didanai oleh Uni Eropa dan HIVOS, menggandeng Kelompok Perempuan Nongkosawit di Kota Semarang, agar mampu membuat aduan publik dan melakukan monitoring lapangan atas pelayanan publik. Fokus advokasi dari kelompok tersebut terkait dengan pelayanan kesehatan pencegahan kenakalan remaja, utamanya merokok dan minum minuman keras.
Field Officer Program SPEAK di Kota Semarang, Amrinalfi Khair Wijayanto, mengatakan, setelah melakukan pelatihan audit sosial, kelompok perempuan Nongkosawit bersepakat untuk mengadvokasi pencegahan perilaku remaja. Yakni merokok dan mengkonsumsi minuman keras di Kelurahan Nongkosawit. Selain sebagai faktor risiko penyakit tidak menular, merokok dan mengkonsumsi alkohol di lingkungan Kelurahan Nongkosawit dianggap menjadi salah satu kategori kenakalan remaja.
“Guna mencapai advokasi tersebut, kelompok ini telah melakukan regenerasi organisasi kepemudaan Karang Taruna yang sebelumnya mandek. Hal itu diharapkan dapat mendorong terlaksananya konseling bagi remaja melalui program Pos Binaan Terpadu (Posbindu) di Kelurahan Nongkosawit,” terang Amrinalfi Khair Wijayanto, saat konferensi pers Senin (24/1).
Lebih lanjut, Amri menjelaskan, persentase penduduk merokok di Kota Semarang mengalami kenaikan setiap tahun. Jumlah remaja yang merokok di antara usia 15-24 tahun naik dari 15,19 persen menjadi 15,71 persen. (Data BPS Jawa Tengah terakhir per 14 April 2021).
“Karena itu, perlu intervensi dari pemerintah dan warga di Kota Semarang, agar kelompok remaja memiliki kesadaran kesehatan sedari dini,” ungkapnya.
Komunitas Nongkosawit menilai, upaya tersebut salah satunya dapat dilakukan melalui Posbindu. Selama ini, sosialisasi permasalahan remaja di Kelurahan Nongkosawit dilakukan oleh Posbindu, karena Karang Taruna selaku kader pemuda dan remaja tidak aktif. Melalui intervensi Program SPEAK sejak 2020 hingga 2021 pelaksanaan Posbindu dikelola oleh kelompok perempuan dengan bekerja sama dengan Karang Taruna. “Tentunya dengan menggandeng remaja, agar program tersebut bisa terselenggara,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Perempuan Nongkosawit, Deviana menjelaskan, bahwa fokus utama penanganan kenakalan remaja di Kelurahan Nongkosawit adalah pada kebiasaan merokok dan mengkonsumsi minuman keras. Ia bersama teman kelompoknya melakukan kegiatan sosialisasi bahaya merokok dan mengkonsumsi alkohol.
“Selama ini belum efektif mengurangi remaja perokok aktif, namun dapat mencegah hadirnya perokok baru,” jelasnya.
Antusias remaja dalam mengikuti Posbindu cukup baik. Orang tua juga mendukung anaknya untuk mengikuti kegiatan ini yang dinilai positif. “Ada 11 orang yang aktif mengikuti Posbindu,” jelasnya.
Devi dan kelompoknya berharap melalui apa yang sudah dilakukan, bisa mengurangi angka perokok aktif pada kalangan remaja. Serta bisa mencegah para perokok yang baru. “Begitu pun juga bisa mencegah remaja minum minuman keras,” ungkapnya.
Senada dengan Deviana, Ketua Karang Taruna Nongkosawit Fitria Wulandari menjelaskan, fokus utama yang ia lakukan bersama dengan kelompoknya adalah melakukan pencegahan. Diakuinya, memang kenakalan remaja di kelurahannya tidak begitu banyak. Namun perlu juga untuk melakukan pencegahan. “Mencegah ke depannya sosok remaja itu lebih baik,” jelasnya.
Ella Cahyaning Maghfuroh, pegiat Pattiro Semarang, menuturkan bahwa, awalnya Pattiro melakukan fasilitasi perumusan Pramusrenbang perempuan. Tercapailah kesepakatan di Nongkosawit terkait isu kenakalan remaja. Pihaknya terus mendorong kelompok perempuan agar bisa memastikan usulan tersebut, yang pada akhirnya bisa benar-benar terlaksana.
“Yang ingin kami capai di Kelurahan Nongkosawit adalah keaktifan kelompok perempuan. Selain itu dinas, kecamatan, sekolah, dan pihak lain juga bisa aktif mencegah kenakalan remaja. Termasuk seluruh warga untuk ikut serta berpartisipasi,” jelasnya. (win)