INDOSatu.co – JAKARTA – Pidato perdana Presiden Prabowo Subianto usai dilantik, Ahad (20/10) dipandang sebagai sebuah penyemangat untuk menjadi lebih baik. Pidato Prabowo memuat visi dan komitmen untuk kesejahteraan rakyat. Dia secara gamblang menyampaikan realitas yang selama ini terkesan ditutupi angka statistik.
Tak heran jika banyak kalangan menyambut positif pidato Prabowo yang menyoroti berbagai tantangan bangsa, termasuk pengentasan kemiskinan dan upaya memberantas korupsi di berbagai tingkatan.
“Saya pribadi menyambut positif pidato Pak Prabowo. Presiden dengan tegas menyebut masih terlalu banyak orang miskin. Untuk mengurangi kemiskinan perlu membuka peluang kerja yang layak dan berkualitas. Ini sangat relevan mengingat kondisi pengangguran yang masih tinggi di Indonesia,” ujar Anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Habib Idrus Salim Al Jufri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, kemiskinan Indonesia mencapai 9,36%, yang berarti sekitar 25 juta penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Sementara tingkat pengangguran terbuka masih berada di angka 5,4%, setara dengan sekitar 7,3 juta orang yang belum mendapatkan pekerjaan tetap.
Habib Idrus menyebut, menciptakan lapangan kerja bukan hanya soal menyediakan pekerjaan, tetapi juga memastikan, pekerjaan tersebut berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat.
“Pengangguran adalah akar dari banyak masalah sosial dan ekonomi. Presiden Prabowo memahami itu dan langkah nyata harus diambil untuk memberi pekerjaan, sehingga pengangguran berkurang dan kesejahteraan rakyat membaik,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menekankan pentingnya kemandirian di sektor pangan dan energi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Prabowo menetapkan target swasembada pangan dan energi dalam empat hingga lima tahun ke depan. Jika berhasil, langkah ini akan membuka peluang kerja baru di berbagai sektor, termasuk pertanian, manufaktur, dan energi terbarukan.
Habib Idrus menggarisbawahi pernyataan Prabowo bahwa korupsi membahayakan negara. Ini dipastikan berdampak langsung pada upaya menciptakan lapangan kerja.
“Korupsi melanda pejabat di segala tingkatan, dan banyak pengusaha yang tidak nasionalis karena turut terlibat. Korupsi ini menghambat pertumbuhan ekonomi dan mempersempit peluang kerja bagi masyarakat,” ujar Habib Idrus menirukan pidato Prabowo.
Lebih lanjut dia menyampaikan, meskipun pemerintah sering menyajikan angka statistik yang positif, tetapi sejatinya masih banyak persoalan sosial yang perlu perhatian serius.
“Jangan terburu-buru senang dengan angka statistik. Masih banyak anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan dan tidak mampu membeli pakaian seragam. Ini adalah kenyataan yang tidak boleh kita abaikan,” kata Habib Idrus mengutip pidato Prabowo.
Habib Idrus mendukung penuh program swasembada pangan dan energi yang diusung Prabowo, karena selain memperkuat ketahanan nasional, program ini juga diharapkan dapat menciptakan ribuan hingga jutaan lapangan kerja baru.
“Paling lambat dalam empat hingga lima tahun, kita harus mencapai swasembada pangan dan energi. Ini tidak hanya akan memperkuat perekonomian nasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan,” (*)