INDOSatu.co – BOJONEGORO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkonfirmasi bahwa bencana hidrometeorologi akan datang lebih awal di tahun 2022.
Bencana hidrometeorologi adalah sebuah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin.
Banyak bencana yang termasuk kategori ke dalam bencana hidrometeorologi, antara lain kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, el nino, la nina, longsor dan berbagai bencana lainnya.
Menurut Zainul Ma’arif, Sekertaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Bojonegoro, sebanyak 14 kecamatan dari 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro menjadi atensi akan dampak dari bencana ini.
Sebab, kata dia, dari 14 kecamatan tersebut berada di bantaran sungai Bengawan Solo. Namun, dari 14 kecamatan tersebut, ada dua kecamatan yang paling diwaspadai akan dampak dari bencana hidromologi. Ke-14 kecamtatan tersebut adalah Kecamatan Margomulyo, Padangan, Ngraho, Purwosari, Gayam, Malo, Kalitidu, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Sumberejo, dan Baureno.
Salah satu penyebab dariq maraknya bencana hidrometeorologi adalah perubahan cuaca yang didukung dengan kerusakan lingkungan yang semakin masif. Bahkan, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, bahwa intensitas terjadinya bencana ini meningkat dalam 15 tahun terakhir.
“Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama pada wilayah-wilayah yang rawan banjir, tanah longsor, dan tanah bergerak seiring dengan intensitas curah hujan yang terus meningkat,” kata Arif, panggilan Zainul Ma’arif ini. (*)