Tak Hanya Apple, Produk Otomotif Mulai Hengkang dari Indonesia

  • Bagikan

MESKI berusaha dibungkus rapi alias ditutup-tutupi oleh media mainstream pro rezim dengan alasan yang dicari-cari, akhirnya tercium juga. Bahkan, sempat juga ada Menteri yang dengan konyolnya berusaha mencari “kambing hitam terkait gagalnya investasi besar dari Apple yang sempat disebut-sebut akan menggelontorkan investasi Rp 1,7 triliun dengan membangun lembaga pendidikan teknologi di Indonesia, ternyata hanya pepesan kosong. Terkait pepesan kosong itu, sudah ada statemen resmi dari Apple bahwa itu hanya “omon-omon” belaka.

Terkait batalnya investasi Apple, sekali lagi meski CEO-nya, Tim Cook sudah disambut dengan karpet merah untuk masuk Istana Negara, namun faktanya rencana investasi yang sebenarnya terlalu amat sangat kecil (untuk tidak menyebutnya “penghinaan”) bila dibandingkan dengan investasi Apple di Vietnam yang 150 kalinya lebih besar. Vietnam digelontor investasi besar karena Apple berencana membangun infrastruktur dan manufaktur senilai Rp 255 triliun. Sedangkan di Indonesia, hanya tempat pendidikan senilai Rp 1,7 triliun, itupun batal.

Dengan kasus batalnya investasi Apple yang sangat memalukan itu, apakah kemudian hal yang sama akan menimpa rencana investasi Microsoft yang juga sudah datang di kesempatan berikutnya? Tentu kita semua berharap tidak demikian. Melalui Satya Narayana Nadella, selaku CEO-nya yang juga sudah datang ke Indonesia, telah menjanjikan investasi jauh lebih besar dari Apple, yakni Rp 27 triliun jika mendadak batal juga, maka mau ditaruh dimana muka Indonesia? Saya menulis “muka Indonesia”, karena jelas-jelas yang malu adalah kita semua sebagai rakyat yang masih memiliki kecintaan terhadap NKRI.

Sebab, bisa jadi mereka-mereka yang sedang berkuasa di rezim ini tidak merasa punya muka lagi, karena dalam kasus Apple, jangankan menyatakan meminta maaf karena sudah membiarkan bangsa ini kena prank, malah yang terlihat pejabat-pejabatnya saling bertikai sendiri dan tidak melakukan evaluasi kenapa perusahaan teknologi ternama Amerika itu batal berinvestasi di Indonesia.

Baca juga :   Dugaan Pelanggaran TSM Pemilu 2024: Alat Curang Bantuan Sosial (Bagian 3)

Mengapa kita perlu khawatir terhadap janji Microsoft? Karena dikhawatirkan seperti Apple yang baru berencana masuk dan ingin berinvestasi, tetapi akhirnya batal juga. Tampaknya di sektor lain, seperti otomotif, Indonesia yang sempat menjadi “surga” pemasaran merk-merk otomotif sejak akhir abad ke-19 silam, kini satu persatu mulai meninggalkan Indonesia dan dipastikan merk-merk branded lainnya tidak lagi mengaspal di jalanan Republik ini.

Secara historis, mobil pertama di Indonesia adalah Benz-Phaeton produksi tahun 1895 milik Sri Soesoehoenan Pakoe Boewono X dari Kraton Soerakarta Hadiningrat. Mobil yang ditenagai mesin 3000 CC/5 HP 1 Silinder 4-roda ini hanya terpaut 9 tahun dari lahirnya mobil pertama produksi Jerman yang sekarang dikenal dengan merk “Mercedes-Benz”, yakni Benz-Patent Wagen 3-roda yang salah satu replikanya berada di Museum Nasional.

Khusus soal mobil pertama Indonesia eks milik Pakoe Boewono X kini masih tersimpan rapi di Louwman Museum Belanda, setelah dikapalkan pada 1924 melalui Pelaboehan Tandjoeng Emas Samarang (saat itu) untuk mengikuti Pameran Otomotif Dunia AutoRAI. Sayangnya, mobil tersebut tidak pulang kembali ke Indonesia. Saat mengunjungi museum tersebut pada 2013 lalu, Alhamdulillah saya diberi kesempatan (satu2nya di dunia untuk pengunjung Museum) untuk menaiki mobil bersejarah di Indonesia itu.

Dan sesuai unggah ungguh/etika yang dipahami, meski ditawari duduk di belakang (kursi penumpang), saya menolak halus dan memilih untuk menjadi “sopir” (atau kusir?), dengan alasan saat itu yang berhak duduk di belakang hanya Sri Sunan/Raja yang berkuasa. Pihak museum sangat mengapresiasi sikap tersebut karena hingga kini, jangankan menaiki, memegang warisan sejarah itu pun tidak diperkenankan di sana.

Sejarah hadirnya mobil pertama di Indonesia 129 tahun silam itu sebenarnya membuktikan bahwa Indonesia adalah negara terpandang juga dalam dunia pasar Otomotif dunia. Bahkan sejak sebelum merdeka. Di awal abad ke-20, importir mobil seperti NV Velodrome, Verwey & Lugard, JA Berkhemer dan Fuchs & Rens tumbuh pesat di kota-kota besar Indonesia, seperti di Batavia, Soerabaia, Bandoeng, Samarang, Djocja dan Deli (Medan). Tahun 1928, Fuch & Rens merakit & menjual mobil Paccard, Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault dan Fargo. Tahun 1939, jumlah mobil di Indonesia sudah mencapai 51.615 unit, tersebar di Pulau Jawa 37.500, di Batavia 7.557, di Bandoeng 4.945 dan kota-kota lain. Jumlah ini sudah termasuk truk sebanyak 12.860 unit.

Baca juga :   Kasih Uang Habis Perkara (KUHP)

Namun di tahun 2024 ini, salah satu merk mobil yang pernah favorit digunakan oleh para penggemar mobil-mobil Eropa, khususnya Perancis, yakni Peugeot menyatakan menghentikan pemasarannya di Indonesia. Sebenarnya ada 2 merk lain yang cukup populer, yakni Renault dan Citroen, selain Smart yang berkolaborasi dengan Mercedes-Benz untuk memproduksi kendaraan imut, tetapi powerful bertenaga 1000cc dan EV (Listrik), namun mobil berlambang Singa Mengaum itu tampak lebih banyak komunitasnya karena tercatat ada beberapa klub otomotifnya, termasuk yang tergabung dalam Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) dan Touring Bela Negara (TBN) series.

Meski ada juga seri yang lebih kuno, namun tipe-tipe Peugeot populer yang mengaspal di sini dimulai dari seri “04” : 304, 504 kemudian seri “05”: “405, 505, 605” disusul yang cukup banyak varietasnya: “06”: 106, 206, 306, 406, hingga 806. Disusul seri “07”: 207, 307, 407, 807 dan sebagainya. Saya pun sempat menikmati mobil produk negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya ini, yakni type 505GR, 405SR, 405SRi, 405ST hingga 605SR yang dikenal sebagai ” S-Class-nya” Peugeot sebelum sempat sebentar menjajal seri 3 dan seri 5 produk Bavarian dan akhirnya tidak bergeser sekarang dari “Tri-star pointed” produksi Stuttgart Jerman Barat. Sejujurnya kalau merk nasional Esemka memang benar-benar ada dan bukan “mobil ghaib”, selaku nasionalis saya pasti setia juga menggunakannya.

Baca juga :   Yang Sarjana Dodol Ada Ga Disini?...
BERSEJARAH: Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes, diberi kehormatan naik mobil pertama Indonesia eks milik Pakoe Boewono X kini masih tersimpan rapi di Louwman Museum Belanda.

Tentu keputusan Astra Mobil divisi Peugeot menghentikan pemasaran di Indonesia sangat mengagetkan publik. Apalagi mobil logo Singa ini sudah mengaum selama 52 tahun, tepatnya sejak 1972, yang kala itu berada di bawah Multi France Motor. Alasan menurunnya pemasaran tentu tidak bisa dihindari, karena tercatat tahun lalu (2023) hanya laku 199. Padahal, pada 2022 bisa mencapai 451, meningkat 2x dibanding 2021 yang cuma 265. Bahkan data terbaru di kuartal I/2024 baru laku 28 unit alias turun 67,6 persen secara tahunan dibanding 2023.

Saat ini beberapa brand baru (dari China) yang masuk seperti Wuling dan BYD cukup “sukses” memasarkan EV-nya, namun sebenarnya kita semua juga tahu bagaimana kualitas produk barang-barang keluaran negara tirai bambu tersebut. Tentu masyarakat tidak mudah lupa akan raibnya MotCin (Motor China) yang kini sudah seperti Esemka, dimana terakhir inipun sebenarnya juga hanya menempel logo dari aslinya merk Foday.

Kesimpulannya, batalnya investasi Apple dan Peugeot yang de facto disukai oleh publik Indonesia berdasarkan data statistik yang sudah saya tulis dalam artikel-artikel sebelumnya tidak bisa dianggap “baik baik saja”. Karena bisa diikuti oleh produk lain, baik di dunia teknologi maupun otomotif, karena pasti sudah terdengar luas di mancanegara. Kalau rezim ini masih belagu seperti sekarang dan bahkan cenderung merusak demokrasi dan KKN yang makin menjadi-jadi, saya khawatir “Indonesia Emas 2045” tidak hanya menjadi “Indonesia Cemas” namun bahkan bisa jadi “Indonesia Lemas”. Akankah Rakyat mendiamkan ini terus terjadi ? Insyaallah tidak… (*)

Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes; 
Penulis adalah Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen. sekaligus Pembina di PPMKI, TBN & Klub Mercedes-Benz Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *