INDOSatu.co – JAKARTA – Mahfud MD akhirnya resmi dipilih sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres) untuk mendampingi bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo dalam Pemilu 2024 mendatang. Pengumuman nama Mahfud itu langsung disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta Pusat, Rabu (18/10).
“Calon wakil presiden yang dipilih PDI Perjuangan adalah bapak Profesor Doktor Mahfud MD,” kata Megawati Sukarnoputri yang disambut tepuk tangan hadirin.
Mahfud dipilih dari sejumlah nama yang santer disebut-sebut sebagai kandidat cawapres Ganjar, antara lain Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Menparekraf Sandiaga Uno hingga mantan Gubernur Jawa Timur Ridwan Kamil.
Namun belakangan, nama Mahfud makin sering disebut setelah bertemu dengan Megawati pada Selasa (17/10) malam. Ganjar Pranowo sendiri telah dideklarasikan sebagai calon presiden yang diusung oleh PDIP dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak 21 April 2023.
Nama Mahfud MD telah menguat diisukan menjadi bakal cawapres Ganjar sebelum pengumuman ini. Mahfud, yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam kontestasi Pilpres kali ini, suara para Nahdliyin sangat diperhitungkan, sebagai organisasi masyarakat dengan basis massa terbesar di Indonesia. Apalagi, NU juga berbasis di Jawa Timur, yang merupakan kantong suara terbesar kedua di Indonesia.
Pasangan Anies dan Cak Imin sendiri dideklarasikan sebagai pasangan bacapres dan bacawapres pada 2 September 2023 di Hotel Majapahit atau yang dulu dikenal sebagai Hotel Yamato, di Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan satu bacapres lainnya, yakni Prabowo Subianto, hingga kini belum mengumumkan bacawapres-nya. Nama yang santer muncul ke permukaan adalah Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka. Apalagi, pasca pembacaan putusan MK, yang sudah mengarah ke Gibran.
Meski demikian, hingga kini masih terjadi tarik ulur. Belum ada kejelasan, apakah Gibran mau menerima tawaran sebagai bacawapres Prabowo atau tetap menjadi walikota Surakarta. Jika Gibran mau menerima tawaran sekalipun, tentu akan menimbulkan dinamika pada Koalisi Indonesia Maju (KIM). Sebab, Gibran dinilai masih terlalu muda untuk menerima dan bersaing dalam kepemimpinan nasional serta masih minim pengalaman.
Bukan hanya itu. Gibran dihadapkan pada pilihan harus mundur sebagai walikota Surakarta jika menerima tawaran sebagai bacawapres Prabowo. Sebab, sebagai partai, PDIP telah resmi mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai capres. Karena itu, mustahil jika PDIP juga mengeluarkan rekomendasi untuk Gibran sebagai bacawapres dari PDI Perjuangan. (*)