Gas LPG 3 Kg Langka, Mulyanto: Presiden Tak Boleh Buang Badan, Tegur Erick Thohir

  • Bagikan
PENGAWASAN KURANG: Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto menyikapi tidak maksimalnya fungsi pengawasan Menteri BUMN Erick Thohir terkait mencuatnya dugaan skandal korupsi Rp 271 tiriliun kasus PT Timah.

INDOSatu.co – JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, meminta Presiden Joko Widodo menegur Menteri BUMN Erick Thohir atas kelangkaan gas LPG 3 kilogram di beberapa daerah. Presiden harus turun tangan karena masalah ini mulai meresahkan masyarakat.

“Presiden harus menegur Erick Thohir agar fokus menyelesaikan masalah kelangkaan gas melon ini. Ingatkan Erick jangan terlalu asyik mengurus sepak bola dan polemik rumput JIS, sehingga tugas utama sebagai Menteri BUMN terbengkalai. Akibatnya, masyarakat susah mendapatkan kebutuhan sehari-hari,” kata Mulyanto.

Mulyanto menyebut, Presiden jangan buang badan terhadap masalah ini. Presiden pemegang tongkat komando tertinggi di struktur pemerintahan, sehingga dapat memanggil menteri yang bersangkutan dan segera tugaskan untuk menyelesaikan masalah distribusi gas melon 3 kilo gram ini.

Baca juga :   Jangan Molor Lagi, LaNyalla Minta Pasar Turi Harus Sudah Beroperasi 22 Maret

“Jangan terkesan melempar tanggung-jawab kepada bawahan,” ujar Wakil Ketua FPKS DPR RI ini.

Mulyanto mendesak Pemerintah segera menata pengelolaan gas LPG 3 kilogram ini. Jangan terus-menerus menyusahkan masyarakat.

“Di tengah harga gas LPG dunia yang terus merosot hampir setengahnya sejak puncaknya di awal tahun 2022, harusnya harga LPG di Indonesia juga sudah ikut turun. Tetapi yang terjadi di kita justru sebaliknya, terjadi kelangkaan gas LPG 3 kilo gram dan harganya juga melejit,” sesal Mulyanto.

Baca juga :   Ketua MPR RI Dorong Para Seniman Bali Kuasai Pasar Seni Internasional

Mulyanto mengaku mendapat laporan terjadi kelangkaan gas LPG 3 kilogram di berbagai daerah seperti Balikpapan, Makasar, Banyuwangi, sumbar, dan lain sebagainya.

Mulyanto menambahkan memang ada penumbuhan demand pasca pandemi Covid-19. Namun diperkirakan over kuota tersebut tidak lebih dari 2,7 persen atau kekurangan sebesar 0.3 juta ton LPG 3 kg. Artinya over kuota tidak banyak dan uang subsidi lebih. Semestinya gas LPG 3 kilo gram tidak langka dan bahkan turun harga.

Di sisi lain, Mulyanto menambahkan, dari hasil prognosa Pertamina, biaya subsidi LPG 3 kilo gram tahun 2023 (dengan memperhitungkan biaya over kuota) dapat dihemat sebesar Rp 32.4, karena penurunan harga LPG dunia tersebut.

Baca juga :   Smelter Meledak di Morowali, Wakil Ketua FPKS Minta Pemerintah Audit Semua Smelter

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara soal kelangkaan LPG 3 kg alias gas melon di beberapa daerah. Aduan kelangkaan ini juga diterima Jokowi saat kunjungan kerja ke Kabupaten Malang, Senin (24/7).

Menurutnya, gas yang harganya disubsidi pemerintah itu memang diperebutkan. Karena itu, ia mengingatkan gas melon hanya diperuntukkan bagi warga miskin.

“Jadi mengenai kelangkaan, nanti biar Pak Menteri BUMN (Erick Thohir) yang menjawab karena itu menyangkut Pertamina, di bawah beliau. Tanyakan,” imbuh Jokowi. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *