Ketua MPR RI Bersama Ikatan Motor Indonesia (IMI) Berikan Santunan Anak Yatim Lintas Agama

  • Bagikan
TANDA KASIH: Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (tengah, pakai kopiah) membagikan santunan untuk yatim/piatu lintas agama yang digelar di kantor IMI Pusat di kawasan Gelora Bung Karno, Senin (17/4).

INDOSatu.co – JAKARTA – Ketua MPR RI yang juga Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan politisi Maruara Sirait bersama keluarga besar IMI memberikan santunan masing-masing satu juta rupiah kepada 200 anak yatim lintas agama, yakni Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghucu. Langkah ini dilakukan keluarga besar IMI, selain sebagai wujud toleransi juga karena para anak yatim dari berbagai agama juga memerlukan bantuan dan perhatian.

Selain menjadi rumah bagi para pecinta olahraga dan mobilitas otomotif, IMI juga harus menjadi rumah bagi para anak yatim dari berbagai agama. Jika biasanya kelompok agama memberikan santunan kepada anak yatim dari kalangan internal agamanya sendiri, IMI berusaha menembus sekat-sekat perbedaan agama tersebut. Langkah ini juga untuk menggugah kesadaran sebagai bangsa, sekaligus menunjukan kepada para anak yatim bahwa mereka masih memiliki saudara sebangsa yang peduli terhadap mereka.

Baca juga :   Ketua MPR RI Bersama GERAK BS Bali Beri Santunan dan Paket Sembako di Denpasar Selatan

”Walaupun tidak satu dalam keimanan, namun kita satu dalam kemanusiaan dan satu dalam kebangsaan,” ujar Bamsoet saat buka puasa bersama dan santunan anak yatim lintas agama, di Kantor Pusat Ikatan Motor Indonesia (IMI) di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (17/4).

Pengurus IMI Pusat yang hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Dewan Pembina Robert Kardinal, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna dan Maruara Sirait, Wakil Bendahara Umum BPP HIPMI Joshua Sirait, Wakil Ketua Umum M. Riyanto, Ananda Mikola, Rifat Sungkar dan Junaidi Elvis, Bendahara Umum Iwan Budi Buana serta pengurus IMI lainnya.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, pemberian santunan terhadap anak yatim lintas agama ini juga sebagai bentuk realisasi hablumminannas (meningkatkan hubungan harmonis manusia dengan manusia), di tengah suasana puasa yang merupakan bagian dari hablumminallah (meningkatkan hubungan manusia dengan Allah).

Baca juga :   Hadiri HUT KORPRI Gorontalo, Fadel Muhammad: Layanan Puskesmas Harus Terus Meningkat

“Santunan terhadap anak yatim piatu ini bukanlah sekadar acara seremonial yang menjadikan mereka sebagai objek. Melainkan sebagai bentuk uluran tali kasih kita kepada mereka yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa. Sekaligus uluran tali sayang kita kepada mereka, bahwa walaupun orang tuanya telah tiada, mereka masih memiliki kita semua sebagai saudara seiman sekaligus saudara sebangsa dalam bingkai kasih sayang kemanusiaan,” jelas Bamsoet.

Pria yang juga Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, menurut laporan Global Minimum Estimates of Children Affected by Covid-19-Associated Orphanhood and Deaths of Caregivers: A Modelling Study, sejak 1 Maret 2020 hingga 30 April 2021, secara global diperkirakan ada 1.562.000 anak kehilangan setidaknya satu orang tua yang meninggal karena Covid-19. Sementara di Indonesia, Litbang Kompas memperkirakan per 17 Agustus 2021, akibat pandemi Covid-10, terdapat 30.912 anak Indonesia yang menjadi yatim/piatu/yatim piatu.

Baca juga :   Ketua MPR RI Dorong RUU Perlindungan Pelajar Indonesia di Luar Negeri

Pemerintah harus senantiasa memberikan perhatian serius kepada anak-anak yang menjadi yatim/piatu/yatim piatu. Selama ini keberadaan mereka seperti luput dari perhatian. Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) bisa mulai mendata by name by address, siapa saja anak Indonesia yang menjadi yatim/piatu/yatim piatu.

”Bantuan dari pemerintah terhadap mereka sangat diperlukan, agar masa depan mereka tidak terganggu. Dari segi pendidikan, misalnya, pemerintah bisa memaksimalkan Program Indonesia Pintar (PIP) hingga Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi salah satu jalan keluar,” pungkas Bamsoet. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *