INDOSatu.co – BOJONEGORO – Diterjang luapan dan arus Bengawan Solo, jembatan penghubung antardua dusun di Desa Kacangan, Kecamatan Malo, Bojonegoro ambruk. Peristiwa ambruknya jembatan itu terjadi pada Sabtu (1/4) lalu. Ambruknya jembatan tiga hari lalu itu merupakan yang terakhir, setelah pada dua tahun sebelumnya juga pernah mengalami hal serupa.
Berdasarkan pantauan INDOSatu.co, Selasa (4/4) di lapangan, jembatan sepanjang 14 meter itu ambruk itu ditimbun dengan pasir agar bisa dilewati warga setempat.
Diduga, jembatan ini ambruk karena luapan dan gerusan air deras dari arus sungai di Desa Kacangan tersebut. Sungai tidak mampu menampung dan menahan debit air, ditambah banyak ranting, kayu dan bambu yang menghambat lajunya arus Bengawan Solo, sehungga penahan jembatan akhirnya ambruk juga.
Jembatan ini menjadi satu-satunya akses masyarakat setempat. Kalau pun jalur alternatif, itu pun harus melewati hutan milik Perhutani dengan jalanan yang sangat ekstrim. Untuk sementara, jembatan masih bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua.
Menurut Wajiran, 50, warga setempat, ambruknya jembatan ini sebenarnya sudah terjadi dua tahun sebelumnya. Wajiran dan warga setempat berharap agar jembatan tersebut segera diperbaiki. Aparat desa setempat kabarnya juga melaporkan perihal jembatan tersebut, namun hingga kini masih menunggu proses realisasi dari dinas PU Pemkab Bojonegoro.
Sementara itu, Kaur Perencanaan dan Pembangunan Desa, Abu Amar ketika ditemui INDOSatu.co mengaklu bahwa hari ini ia sedang mengajukan proposal perbaikan jembatan ke Dinas PU Bojonegoro. Abu Amar berharap agar jembatan yang ambruk ini bisa segera diperbaiki demi menunjang kelancaran mobilitas warga setempat. “Hari ini proses pengajuan surat ke Dinas PU.” terang Abu Amar.
Abu Amar mengaku, sebenarnya laporan pengajuan perbaikan jembatan itu sudah diajukan selama tiga kali berturut turut mulai dari 2021, 2022, dan tahun 2023 sekarang ini.
“Saya itu kirim proposal 3 kali. Dan mudah-mudahan kali ini ditanggapi dengan baik. Apalagi sebelumnya juga ada survei dari Dinas PU. Kelihatannya untuk tahun ini bisa segera segera diperbaiki.” ungkap Abu Amar, Selasa (4/4).
Sedangkan pembangunan jembatan itu diketahui dulunya dibangun dari program pemerintah, yakni Gerdu Taskin (Gerakan Terpadu dan Pengentasan Kemiskinan). “Itu dulu dari Gerdu Taskin tahun 2005. Dari Pemkab, tapi program lain. Programnya namanya Gerdu Taskin itu.” tambahnya.
Pemerintah desa setempat juga berharap agar proses realisasi segera dilaksanakan, supaya aktivitas warga bisa kembali normal. (*)