HNW Ajak Alumni Gontor untuk Berkontribusi Membela Umat, Bangsa dan Negara

  • Bagikan
BERI KETELADANAN: Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (kanan) bercengkerama dengan pengurus pesantren Gontor di sela-sela Sarasehan Pimpinan Pondok dan Alumni Gontor se-Indonesia Bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di Ponorogo, Jawa Timur.

INDOSatu.co – PONOROGO – Dihadapan ratusan Pimpinan Pondok Pesantren alumni Gontor, Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA (HNW) mengajak para Pimpinan Pesantren dan Santri untuk melanjutkan peran sejarah Pesantren dengan terus peduli dan lebih berkontribusi membela serta memperjuangkan kemaslahatan umat, bangsa dan negara, hal yang dulu sudah dilakukan oleh ulama, kyai dan santri. Termasuk pendiri, pimpinan dan pengurus serta para santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor.

HNW mengingatkan bahwa, salah satu spirit yang melatarbelakangi berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor adalah keinginan berkontribusi menghadirkan solusi. Sebab, saat itu sulit mencari utusan yang menguasai Bahasa Arab dan Inggris untuk menghadiri kongres di Makkah setelah runtuhnya khilafah Turki Utsmani. Kesaksian itu disampaikan KH. A. Sahal, pada saat menghadiri kongres Umat Islam, di Surabaya. KH. A. Sahal adalah salah satu dari tiga serangkai pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Sejak awal Trimurti (pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor) terobsesi dan menghendaki berdirinya pondok pesantren modern yang berkeunggulan, bukan pondok yang biasa-biasa saja. Tetapi pondok dan para santrinya yang hebat, memiliki berbagai keunggulan, bukan hanya bisa berkomunikasi dengan lokal tetapi juga bisa bermanfaat di tingkat global,” kata Hidayat Nur Wahid menambahkan.

Baca juga :   Ke Tempat Ibadah - Mal, Luhut: Yang Datang Harus Sudah Vaksin

Pernyataan itu disampaikan HNW pada Sarasehan Pimpinan Pondok Alumni Gontor se-Indonesia Bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara tersebut berlangsung di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ahad (5/3). Turut hadir dalam acara tersebut, Pimpinan Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor dan Pimpinan Forum Pesantren Alumni Gontor.

Pada zaman perjuangan Kemerdekaan RI, pengasuh dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, menurut HNW, tidak hanya berdiam diri di Pondok. Selama era perjuangan fisik dan sesudahnya, santri dan kyai Pesantren Gontor terlibat aktif membersamai perjuangan rakyat mempertahankan Indonesia Merdeka. Sebagaimana ditunjukkan oleh KH. R. Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Gontor, yang saat itu turut aktif mempersiapkan dan menggembleng laskar Hizbullah di Bogor. Juga KH. Idham Kholid alumni Gontor generasi pertama yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri, ketua Partai dan Ketua MPR/DPR.

Baca juga :   HNW Ingatkan Kepala Daerah untuk Fasilitasi Salat Idul Fitri Warga Muhammadiyah

“Ketika terjadi pemberontakan PKI, baik pada tahun 1948 maupun 1965, pesantren Gontor menjadi target dan korban. Karena itu, para kyai dan santri ikut melakukan perlawanan, bekerja sama dengan TNI dan lainnya menggagalkan makar PKI, menyelamatkan ideologi Umat, Bangsa dan Negara,” ungkap alumni Gontor yang pernah menjadi Ketua MPR RI periode 2004-2009 itu.

Pilihan sikap yang diambil Pesantren Gontor, ungkap HNW, sesuai dengan teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para Khulafa Rasyidin seperti Umar bin Khaththab RA, sikap yang sangat relevan dan diperlukan oleh Umat, Bangsa dan Negara.

Menjelang Satu Abad pesantren Gontor pada 20 September 2026, kata HNW, patut ditegaskan bahwa posisi pesantren Gontor memang tidak berpolitik praktis. Tetapi para alumninya tetap penting meneruskan cita-cita para pendiri pondok, terus membersamai membela kepentingan umat, bangsa dan negara.

Baca juga :   Kades dan Perangkat Desa Dapat Tunjangan Purna Tugas, Sultan: Desa Harus Mandiri

Alumni Gontor, kata HNW, bisa ada di mana-mana, termasuk ormas dan parpol, yang mencintai umat, bangsa dan negaranya, dengan menghadirkan santri-santri unggulan yang bisa melakukan peran “mundzirul qaum”(pemberi pencerahan bagi warga) dalam makna yang seluas-luasnya, dengan etika tinggi yang diajarkan di Pesantren.

Alumni Pesantren Gontor dan Pondok Pesantren lain yang didirikan alumni, kata HNW, perlu menghayati sejarah Pondok dan sekaligus hymne Pondok Gontor, yang luar biasa mengajarkan dan menginternalisasi cinta Pesantren dan cinta Bangsa dan Negara, yang bahkan sama disebut sebagai Ibu, sebagaimana Ibu kandung.

“Hal itu harus menjadi bagian dari tradisi dan spirit besar untuk lanjutkan berkontribusi mewujudkan cinta kepada Umat Bangsa dan Negara sebagaimana cinta para Santri kepada Ibu kandung mereka masing-masing, untuk menjaga dan menyelamatkan Indonesia dengan cita-cita proklamasi maupun reformasinya. Begitulah seharusnya dunia Pesantren Gontor memaknai seratus tahun Gontor untuk menyongsong peringatan 100 tahun Indonesia Merdeka, Indonesia emas pada tahun 2045,” pungkas HNW. (adi/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *