INDOSatu.co – JAKARTA – Meski dalam penjagaan aparat sangat ketat, hal itu tidak menyurutkan Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk menggelar aksi demo di depan Istana. Mereka tetap menggelar Aksi 411 siang tadi.
Sebelum aksi demo massa tersebut dimulai, polisi sudah menutup semua akses jalan menuju ke Istana Negara. Beton pembatas dan kawat berduri pun juga tampak telah terpasang menutup akses jalan arah menuju Istana Negara.
Selain itu, terlihat dua kendaraan taktis (rantis) polisi juga disiagakan. Kedua mobil itu terparkir di belakang separator pembatas tepatnya di belakang jembatan penyeberangan orang (JPO).
Aksi yang digerakkan oleh elemen masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Nasional Pembela Rakyat (GNPR) itu menggelar unjuk rasa bertajuk “Aksi 411” di kawasan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Jumat (4/11). Salah satu anggota dari gerakan ini adalah Persaudaraan Alumni (PA) 212.
Aksi tersebut semakin membesar karena Persaudaraan Alumni (PA) 212 juga datang datang dari daerah sekitar Jakarta. Misalnya dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Sasaran demo adalah depan Istana. Maklum, salah satu tema yang diangkat dalam aksi tersebut salah satunya adalah soal dugaan ijazah palsu Presiden yang marak akhir-akhir ini.
Mereka meminta agar Presiden Joko Widodo mau menemui mereka. Mereka minta Jokowi menjelaskan asal muasal ijazahnya yang sempat dilaporkan oleh Bambang Tri Mulyono yang berujung penangkapan terhadap yang bersangkutan.
Sayangnya, keinginan PA 212 tersebut tidak bersambut. Sebab, sebelum aksi mereka sampai di depan Istana, Presiden Jokowi memilih meninggalkan Istana. Mantan Wali Kota Solo itu memilih terbang ke Jawa Timur untuk menghadiri suatu acara. ”Kami rakyat ingin Presiden menjelaskan soal ijazahmu. Itu yang sekarang lagi ditunggu rakyat seluruh Indonesia, jangan lari,” kata salah seorang peserta aksi. (*)