INDOSatu.co – JEDDAH – Kabar menggembirakan datang dari Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Dia mengungkapkan bahwa, berdasarkan informasi yang ia dapat dari Kementerian Haji Arab Saudi, kuota jamaah haji Indonesia untuk musim haji mendatang akan lebih banyak dari tahun ini.
Yaqut berharap, kuota untuk jamaah haji Indonesia mendatang lebih dari 100.051 yang merupakan kuota pada tahun ini. Bahkan, dia berharap Jamaah haji mendatang jumlahnya bisa normal seperti sebelum Pandemi Covid-19 dua tahun lalu.
“Mudah-mudahan kuota tahun depan naik. Berdasarkan informasi yang saya terima dari Menteri Haji, lebih banyak dari tahun ini,” kata Yaqut dikutip dari kemenag.go.id usai memimpin Rapat Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1443 H di Jeddah, Sabtu (16/7).
Yaqut mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq F Al Rabiah terkait dengan kuota dan segala hal yang menyangkut pelaksanaan haji. Bahkan, Menag mengungkapkan, kemungkinan akan ada kuota khusus untuk jamaah lanjut usia atau lansia.
“Berdasarkan informasi, akan ada kuota khusus untuk usia lanjut. Definisinya seperti apa kita tunggu penjelasan dari Saudi,” ungkapnya.
Seperti diketahui, pada tahun ini Indonesia mendapatkan sekitar 46 persen dari kuota normal yang diberikan pada tahun-tahun sebelumnya. Jumlah 100.051 jamaah ini terdiri atas 92.825 kuota haji reguler dan 7.226 kuota haji khusus. Dalam lima tahun sebelumnya, kuota haji reguler Indonesia mencapai 155.200 (2015 dan 2016), 204.000 (2017 dan 2018), serta 214.000 (2019).
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengungkapkan beberapa evaluasi yang menjadi sorotan selama pelaksanaan haji tahun 2022. Di antaranya terkait pembimbing ibadah yang tidak bekerja sesuai tusi (tugas dan fungsi)-nya. Akibatnya, jamaah tidak mendapatkan bimbingan dengan baik.
Menyikapi masalah ini, ia meminta ke depan pembimbing ibadah ditetapkan lebih awal, sebelum petugas yang lain dan dilibatkan dalam manasik lebih awal. “Agar para pembimbing ibadah dan jamaah sudah nyambung sejak awal, sehingga lebih enak komunikasinya,” jelas menteri asal Rembang, Jawa Tengah itu.
Selain itu, Yaqut juga masih menemukan jamaah haji yang memaksakan diri melaksanakan ritual sunnah. Termasuk program dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Karena itu, meminta KBIHU lebih memperhatikan kesehatan jamaah haji dengan menyusun program yang disusun berdasarkan tingkat kesehatan jamaah. (*)