“Merawat Indonesia” Berlangsung Meriah, Diikat Tali Agama, Muhammadiyah-NU selalu Rukun

  • Bagikan
MERIAH: Suasana Acara Mata Najwa on Stage Spesial Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah bertema "Merawat Indonesia" yang digelar di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada Kamis (10/11), malam.

INDOSatu.co – SURAKARTA – Suasana acara Muktamar Talk: Mata Najwa Spesial Muktamar yang digelar di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang digelar Kamis (10/11), benar-benar meriah.

Mata Najwa Spesial Muktamar itu setidaknya dihadiri 11.000-an penonton yang berasal berbagai daerah. Selain dari daerah Surakarta dan sekitarnya, misalnya, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Klaten, Wonogiri, Grobogan, Salatiga, dan Semarang, acara tersebut juga dihadiri penonton dari beberapa daerah di Jawa Timur. Dari Kabupaten Ngawi, Madiun, Ponorogo, Magetan dan sebagainya.

Dengan mengusung tema “Merawat Indonesia” itu, dalam rangkaian Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah ke-48, Muhammadiyah ingin memaknai persatuan, kebhinekaan, dan kebangsaan dalam membangun peradaban umat. Saat kondisi negeri sedang menyambut tahun politik dan tantangan ke depan yang semakin beragam, perlu kemudian dibahas apa yang bisa dilakukan untuk tetap bisa merawat Indonesia.

Baca juga :   "Merawat Indonesia", Panitia Siapkan Side Event Mata Najwa Spesial Muktamar

Acara dipandu secara langsung Najwa Shihab, acara ini menghadirkan beberapa narasumber hebat, di antaranya: Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah Rahmawati Husein, dan Founder Drone Emprit Ismail Fahmi.

Selain diisi oleh para narasumber, ada juga penampilan yang akan dibawakan oleh Yusril Fahriza (Kader Muda Muhammadiyah, Komika & Aktor) dan Putra Maestro Ebiet G. Ade, serta Aderaprabu Lantip Trengginas (Musisi).

Baca juga :   Pandemi, PMI Bantu Masyarakat dan Pemerintah

Zulfa Mustofa menyampaikan banyak orang menganggap bahwa jamaah Nahdlatul Ulama dan pengikut Muhammadiyah itu selalu tidak rukun dan tidak kompak, padahal realitanya di masyarakat NU dan Muhammadiyah dalam menjaga solidaritas keislaman sangat kompak dan saling merawat ke-Bhinnekaan.

“NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi kemasyarakatan, sosial, budaya dan keagamaan yang konsen dalam dakwah sehingga memiliki kesamaan dalam membangun Indonesia. Ya, kerukunan keduanya karena diikat dengan tali agama,” ujarnya.

Baca juga :   Pupuk Langka Diduga Lemahnya Distribusi di Lapangan

Abdul Mu’ti juga menyampaikan Muhammadiyah dan NU mampu menjaga kerukunan, yaitu kesadaran dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Muhammadiyah dan NU rukun karena memiliki kesamaan kepentingan, “Kita punya kepentingan yang sama untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia.”

“Yang membuat Muhammadiyah dan NU semakin rukun. Pertama, kita memiliki kesadaran atas nilai yang sama. Kedua, bersedia mengadopsi nilai yang diperlukan agar kita dapat hidup berdampingan dengan damai, Nilai toleransi dan kebangsaan adalah bentuk adopsi yang kita lakukan,” terangnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *